“Mari kita dukung Program Pemerintah Kota Denpasar Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan Berkelanjutan “ penegasan ini disampaikan Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, SE disela-sela Pembukaan Pasar Rakyat “Pekenan Tenten III” yang dilaksanakan oleh ST Dharma Cantih Kelurahan Pedungan, Kamis (9/12) bertempat di Br. Pande Kelurahan Pedungan. Pembukaan yang dihadiri oleh Sekkot Denpasar Drs.AAN Rai Iswara,M.Si, Jajaran SKPD, Anggota DPRD Kota dan Provinsi, Kades/Lurah dan Tokoh-Tokoh Masyarakat setempat ditandai dengan Pemukulan Gong oleh Wakil Walikota Denpasar.
Lebih lanjut Jaya Negara mengatakan Pemerintah terus mendorong sektor Perekonomian Kerakyatan sebagai tulang punggung Ekonomi Nasional. Dimana Ekonomi Kerakyatan merupakan salah satu kunci suksesnya Pembangunan Ekonomi Daerah juga sekaligus mengarah pada pemerataan pendapatan. Ditegaskannya pula peningkatan dan pelayanan bagi pengelola Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) tidak semata menjadi tanggung jawab Pemerintah saja tapi tanggung jawab semua pihak. Digelarnya Event Pasar Rakyat ini adalah untuk membangkitkan Sektor Ekonomi Masyarakat khususnya para pedagang kecil dan menengah di Denpasar. Jaya Negara juga mengharapkan peran aktif Generasi Muda dalam Pasar Rakyat ini sebagai wahana pembelajaran berwirausaha dimana nantinya Generasi Muda dituntut harus mampu memiliki jiwa kreatif dan inovatif dalam era global pungkas Jaya Negara.
Lurah Pedungan I Nyoman Lodra, SE,M.Si dalam sambutannya mengatakan Pekenan Tenten istilah jaman tempo dulu merupakan sebuah Pasar Dadakan yang sangat dinanti oleh masyarakat. Pasar Dadakan ini memakan waktu pendek yang bersifat hiburan di hari suci ini, namun tetap terjadi transaksi jual beli. Untuk itu Pekenan Tenten ini sangatlah perlu dilestarikan agar masyarakat bisa menjalankan perayaan hari suci Galungan dengan sederhana. Berdasarkan pengamatan kami selama tiga kali pelaksanaan Pekenan Tenten ini sangat mendapat dukungan penuh dari para Wirausaha kecil dan Menengah kebawah di Kota Denpasar. Pasar Rakyat ini berlangsung selama 2 hari yang diikuti oleh 183 pedagang pungkas Nyoman Lodra.
Usai melakukan Pemukulan Gong Wakil Walikota Denpasar IGN Jaya Negara, SE dan Sekkot Drs.AAN Rai Iswara, M.Si bersama undangan lainnya juga berkesempatan keliling di seputar areal stand sambil sesekali berdialog dengan para pedagang. Dalam dialog tersebut selain mengagumi produk yang dihasilkan Jaya Negara juga menyarankan agar para pedagang selalu kreatif dalam membuat hasil kerajinannya.
Sumber berita di klik disini: http://www.denpasarkota.go.id/main.php?act=news&kd=6586
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EKONOMI. Tampilkan semua postingan
Selasa, 04 Januari 2011
Minggu, 06 Desember 2009
BLIGBAGAN PAGUYUBAN 276




Keterangan Foto (dari kiri ke kanan): Ketut Prad; Kak Kupang; De Kablut; Ajik Brekele dan Wayan Sampik
Kalau di TV-TV sekarang dipenuhi dengan diskusi politik; ekonomi; budaya dan topik-topik lainnya, maka Paguyuban 276 Mhz juga tidak mau kalah. Minggu 6 Desember 2009 sore hari beberapa breakeran mengisi topik diskusi dalam bentuk "Pemberdayaan Masyarakat Desa melalui Pupuk yang mudah dijangkau dan murah dibeli Petani", breakeran yang tampil saat itu adalah Wayan Sampik, Gung Aji Brekele, Made Kablut/Bungin 9, Ketut Prad dan Kak Kupang.
Prolog diskusi sebenarnya berawal dari obrolan mengenai pengembangan paguyuban 276 melalui peluang bisnis didesa Pedungan. Namun dalam perjalanan diskusi yang dipandu oleh Wayan Sampik dengan Pengarah acara oleh Berkele ternyata membawa topik diskusi lebih ke topik di atas itu yakni Pemberdayaan masyarakat petani di desa Pedungan.
Kak Kupang dalam diskusi pembuka mengajukan kondisi di pasaran hari ini, bahwa harga beras meningkat secara signifikan. Beras lokal Jembrana merk Kereta sebelumnya dijual di pasaran seharga 140 ribu rupiah, sekarang telah mencapai harga 150 ribu rupiah. Hal ini kiranya perlu diintip guna peluang paguyuban 276 untuk menjadi distributor beras lokal atau beras lainnya yang didistribusikan kepada rekan-rekan paguyuban 276 maupun masyarakat desa pedungan. Lemparan ide ini disambut oleh Made Kablut yang mengharapkan Wayan Sampik mau menyambut ide ini untuk dikelola oleh paguyuban 276. Namun oleh wayan sampik ide ini ingin dipertajam lagi yakni ke arah pupuk, yakni bagaimana dengan proses pendistribusian pupuk dari pemerintah ke KUD lanjut ke petani yang melewati Pekaseh (koordinator subak atau kelompok petani di Bali). Yang ditengarai oleh Wayan Sampik ada kejanggalan dalam proses itu? dimana petani di desa pedungan bisa tidak memperoleh pupuk di KUD, namun sebaliknya justru petani-petani di desa sanur justru mendapatkan pupuk di desa Pemogan tetangga desa Pedungan. Di duga dalam proses pendistribusian pupuk ke masyarakat dimonopoli oleh kelompok atau seseorang yang memborong pupuk pemerintah yang seharusnya untuk petani.
Berkele dan Ketut Prad memberikan masukan-masukan tentang kondisi-kondisi yang menyangkut peranan KUD di desa Pedungan dalam pendistribusian beras ini. Konon sejak beberapa warsa ini KUD Pedungan sudah tidak lagi mendistribusikan pupuk langsung ke petani namun tugas ini telah diambil oleh Pekaseh. Artinya pekaseh yang langsung mempetakan kebutuhan pupuk untuk petani di desa Pedungan yang diajukan ke dinas pertanian. Kondisi ini dirasakan aneh oleh Wayan Sampik, karena menurut pemahamannya bahwa tujuan pendistribusian pupuk itu adalah guna memudahkan para petani mendapatkan pupuk serta membantu petani untuk mendapatkan pupuk yang lebih murah.
Bagaimana cara atau langkah yang sepatutnya diambil agar tujuan awal itu tercapai, yakni petani mudah mendapatkan pupuk dan petani juga dapat membeli pupuk dengan harga yang murah? Hal inilah yang menjadi pemikiran bersama bagi breakeran paguyuban 276.
Mungkin ke depan, breakeran paguyuban 276 lainnya dapat memberi pemikiran-pemikiran jernih lainnya yang dapat disumbangkan ke masyarakat di desa Pedungan, kita tungggu pabligbagan berikutnya.....
Sabtu, 05 Desember 2009
WALIKOTA TATAP MUKA DENGAN KRAMA SUBAK KERDUNG
sumber: www.denpasarkota.go.id
Pelestarian dan keberadaan Tanah pertanian dan subak di Kota Denpasar harus dipertahankan. Jangan sampai setiap tahunnya mengalami penyusutan yang dipergunakan untuk peruntukan perumahan atau yang lainnya. Pelestarian subak ini bukan saja menjadi tanggung jawab Pemkot, tapi bagaimana krama subak ikut aktif menjaga dan mempertahankan lahan yang ada di wilayah subak masing-masing. ”Mari kita bersama-sama berupaya melestarikan dan mempertahankan keberadaan subak,” kata Walikota IB. Rai Dharmawijaya Mantra saat tatap muka dengan krama subak Kerdung Pedungan, Jumat (4/11). (Oka)
Untuk mengantisipasi terjadinya alih fungsi lahan pertanian orang nomor satu di jajaran Pemkot Denpasar ini sepakat dengan krama subak Kerdung agar ijin pengkavlingan lahan agar distop bagi daerah jalur hijau. Selain itu langkah antisipasi yang harus dilakukan krama subak juga jangan cepat-cepat menjual tanahnya. Untuk itu pihaknya melalui SKPD terkait selalu berupaya melakukan pemberdayaan krama subak dengan berbagai pelatihan dan bantuan material. Dan membebaskan lahan pertanian dari pajak ” Untuk tanah pertanian dan jalur hijau Pajaknya telah disubsidi oleh Pemkot Denpasar yang jumlahnya mencapai 2,5 Milyar lebih. Dan melarang pengembang membangun perumahan dilahan pertanian yang produktif namun mengarahkan kedaerah L/C ”ungkap Rai Mantra yang hoby naik sepeda ini. Sembari mengaku Wayan Tama, Pekaseh Subak Kerdung dihadapan Wali Kota Rai Mantra didampingi Camat Densel IB. Alit Wiradana, dan Lurah Pedungan, I Nyoman Lodra mengungkapkan saat ini lahan pertanian yang digarap oleh krama subak berjumlah 250 orang seluas 240 Ha. Luasnya lahan pertanian yang dimiliki krama subak Kerdung menjadikan subak yang saat ini melakukan pola tanam padi mendapatkan predikat subak yang paling luas di Kota Denpasar.
Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar, Nyoman Ambara menyampaikan untuk Subak Kerdung sudah diberikan bantuan pengembangan padi organik seluas 10 Ha, bantuan benih padi, pupuk urea, phoska, petroganik dan para petani pelaksana juga diberikan insentif. Selain itu pihaknya juga membantu benih dan pupuk yang subsidi ganda untuk lahan seluas 70 Ha. Sedangkan bantuan lainnya berupa jaringan irigasi dan membuatkan jalan sepanjang 4 Km dengan lebar 2 m yang peruntukannya untuk mempermudah bagi petani dalam beraktivitas seperti membawa traktor, gabah dan mengangkut hasil pertanian lainnya. Khusus untuk penggarapan jalan hingga saat ini baru selesai 60% yang dikerjakan mulai bulan Nopember dan akhir bulan ini sudah rampung. (Oka)

Pelestarian dan keberadaan Tanah pertanian dan subak di Kota Denpasar harus dipertahankan. Jangan sampai setiap tahunnya mengalami penyusutan yang dipergunakan untuk peruntukan perumahan atau yang lainnya. Pelestarian subak ini bukan saja menjadi tanggung jawab Pemkot, tapi bagaimana krama subak ikut aktif menjaga dan mempertahankan lahan yang ada di wilayah subak masing-masing. ”Mari kita bersama-sama berupaya melestarikan dan mempertahankan keberadaan subak,” kata Walikota IB. Rai Dharmawijaya Mantra saat tatap muka dengan krama subak Kerdung Pedungan, Jumat (4/11). (Oka)
Untuk mengantisipasi terjadinya alih fungsi lahan pertanian orang nomor satu di jajaran Pemkot Denpasar ini sepakat dengan krama subak Kerdung agar ijin pengkavlingan lahan agar distop bagi daerah jalur hijau. Selain itu langkah antisipasi yang harus dilakukan krama subak juga jangan cepat-cepat menjual tanahnya. Untuk itu pihaknya melalui SKPD terkait selalu berupaya melakukan pemberdayaan krama subak dengan berbagai pelatihan dan bantuan material. Dan membebaskan lahan pertanian dari pajak ” Untuk tanah pertanian dan jalur hijau Pajaknya telah disubsidi oleh Pemkot Denpasar yang jumlahnya mencapai 2,5 Milyar lebih. Dan melarang pengembang membangun perumahan dilahan pertanian yang produktif namun mengarahkan kedaerah L/C ”ungkap Rai Mantra yang hoby naik sepeda ini. Sembari mengaku Wayan Tama, Pekaseh Subak Kerdung dihadapan Wali Kota Rai Mantra didampingi Camat Densel IB. Alit Wiradana, dan Lurah Pedungan, I Nyoman Lodra mengungkapkan saat ini lahan pertanian yang digarap oleh krama subak berjumlah 250 orang seluas 240 Ha. Luasnya lahan pertanian yang dimiliki krama subak Kerdung menjadikan subak yang saat ini melakukan pola tanam padi mendapatkan predikat subak yang paling luas di Kota Denpasar.
Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar, Nyoman Ambara menyampaikan untuk Subak Kerdung sudah diberikan bantuan pengembangan padi organik seluas 10 Ha, bantuan benih padi, pupuk urea, phoska, petroganik dan para petani pelaksana juga diberikan insentif. Selain itu pihaknya juga membantu benih dan pupuk yang subsidi ganda untuk lahan seluas 70 Ha. Sedangkan bantuan lainnya berupa jaringan irigasi dan membuatkan jalan sepanjang 4 Km dengan lebar 2 m yang peruntukannya untuk mempermudah bagi petani dalam beraktivitas seperti membawa traktor, gabah dan mengangkut hasil pertanian lainnya. Khusus untuk penggarapan jalan hingga saat ini baru selesai 60% yang dikerjakan mulai bulan Nopember dan akhir bulan ini sudah rampung. (Oka)
Kamis, 27 Agustus 2009
PEMKOT MELUNCURKAN DANA BERGULIR
Walau berita di bawah ini sudah kadaluwarsa dari aspek waktu karena diberitakan pada Sabtu 3 Nov 2007, namun terasa masih relevan jika dimaknai dari aspek kebutuhan masyarakat desa.

Denpasar (denpasarkota.go.id), Bersamaan dengan Hut Badan Kerjasama Lembaga Perkreditan (BKS-LPD) ke 9 Kota Denpasar, bertempat di Wantilan Desa Pakaraman Pohgading, Desa Ubung Kaja, Denpasar Utara, Pemerintah Kota Denpasar meluncurkan kredit bergulir senilai 1 milyar kepada 10 LPD yang ada di Kota Denpasar. Penyerahan tersebut dilakukan oleh Wakil Walikota Denpasar IB. Rai Darmawijaya Mantra mewakili Walikota Denpasar AA. Puspayoga dan langsung diterima oleh perwakilan di masing-masing LPD yang telah ditunjuk.
Adapun kesepuluh LPD yang memperoleh dana bergulir tersebut : 1. LPD Ds Pakraman padang Sambian, 2. LPD Ds Pakraman Pedungan. 3. LPD Ds Pakraman Intaran. 4. LPD Ds Pakraman Sanur, 5. LPD Ds Pakraman Sumerta. 6. LPD Ds Pakraman Tonja, 7. LPD Ds Pakraman Cengkelung. 8. LPD Ds Pakraman Kedua, 9. LPD Ds Pakraman Penyaringan, 10. LPD Ds Pakraman Jenah. (Krsn)

Denpasar (denpasarkota.go.id), Bersamaan dengan Hut Badan Kerjasama Lembaga Perkreditan (BKS-LPD) ke 9 Kota Denpasar, bertempat di Wantilan Desa Pakaraman Pohgading, Desa Ubung Kaja, Denpasar Utara, Pemerintah Kota Denpasar meluncurkan kredit bergulir senilai 1 milyar kepada 10 LPD yang ada di Kota Denpasar. Penyerahan tersebut dilakukan oleh Wakil Walikota Denpasar IB. Rai Darmawijaya Mantra mewakili Walikota Denpasar AA. Puspayoga dan langsung diterima oleh perwakilan di masing-masing LPD yang telah ditunjuk.
Adapun kesepuluh LPD yang memperoleh dana bergulir tersebut : 1. LPD Ds Pakraman padang Sambian, 2. LPD Ds Pakraman Pedungan. 3. LPD Ds Pakraman Intaran. 4. LPD Ds Pakraman Sanur, 5. LPD Ds Pakraman Sumerta. 6. LPD Ds Pakraman Tonja, 7. LPD Ds Pakraman Cengkelung. 8. LPD Ds Pakraman Kedua, 9. LPD Ds Pakraman Penyaringan, 10. LPD Ds Pakraman Jenah. (Krsn)
LPD Aset Potensial Pembangunan
Sekalipun berita di bawah ini telah diberitakan pada 5 Nov 2007, namun materi beritanya masih relevan jika kita lihat atau pandang dari kebutuhan masyarakat desa.
Denpasar (BisnisBali) –Lembaga perkreditan desa (LPD) yang dimiliki desa pakraman saat ini, bukan hanya menjadi kekuatan ekonomi potensial bagi pembangunan desa, namun juga bagi Kota Denpasar.
“LPD yang berjumlah 35 unit dengan total aset Rp 220,5 milyar dapat menjadi kekuatan ekonomi potensial bagi pembangunan, khususnya dalam mendorong sektor ekonomi kerakyatan,” ungkap Wali Kota Denpasar, AA Puspayoga dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra saat HUT ke-9 Badan Kerja Sama Lembaga Perkreditan Desa (BKS LPD) Kota Denpasar di wantilan Desa Pakraman Pohgading, Ubung Kaja Denpasar Utara, Sabtu (3/11) lalu.
Peringatan ulang tahun ditandai dengan pelantikan pengurus BKS LPD masa bakti 2007-2011, yang diketuai I Made Sugita, S.Sos., (LPD Sesetan) dan sekretaris I Made Sutarka (LPD Anggabaya).
Wawali Rai Dharmawijaya Mantra juga menyerahkan dana bergulir Rp 1 milyar kepada 10 LPD, yaitu LPD Padang Sambian, Pedungan, Intaran, Sanur, Sumerta, Tonja, Cengkilung, Kedua, Penyaringan dan LPD Jenah.
Ia mengungkapkan, LPD dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi potensial, mengingat keunggulan yang dimilikinya. Di antaranya adanya kedekatan budaya dan psikologis dengan nasabahnya, lokasi yang terjangkau dan karakter bisnis yang luwes. “Kemajuan LPD dapat menjadi sumber pembiayaan bagi pengembangan ekonomi desa,” jelasnya.
Keberadaan LPD di desa pakraman selain sebagai lembaga pembiayaan yang efektif di tingkat desa, juga dapat menjadi pendorong pembangunan, meningkatkan daya beli masyarakat serta memperluas kesempatan kerja. “LPD diharapkan dapat menumbuhkan usaha kecil yang potensial di wilayah masing-masing yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
LPD juga telah ditetapkan menjadi pusat informasi UKM strategis dan pusat produktivitas warga. Menghadapi tantangan dan persaingan antarlembaga keuangan sejenis yang kian ketat, pengelola LPD diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme dan kompetensi.
“Salah satunya dengan terus-menerus mengikuti pelatihan dan peningkatan wawasan,” ungkapnya. Di samping itu, LPD harus selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko, memanfaatkan teknologi informasi serta akses terhadap sumber pembiayaan yang mudah dan murah. “Upaya lainnya adalah dengan selalu mengadakan koordinasi dan kerja sama antar-LPD yang diwadahi oleh BKS LPD,” ungkapnya.
Ketua BKS LPD periode 2003-2007, I Made Pasti, S.E., menyatakan, diharapkan LPD mampu menjadi leading sektor mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah yang ada. Pada gilirannya mampu mewujudkan dan meningkatkan kemandirian dalam membangun perekonomian desa.
“Masih banyak tugas yang menanti, seperti mewujudkan kerja sama pembiayaan antar-LPD atau sejenis inter LPD (cool money market), serta memantapkan kerja sama antar-LPD dalam BKS ini,” katanya. *yas

Denpasar (BisnisBali) –Lembaga perkreditan desa (LPD) yang dimiliki desa pakraman saat ini, bukan hanya menjadi kekuatan ekonomi potensial bagi pembangunan desa, namun juga bagi Kota Denpasar.
“LPD yang berjumlah 35 unit dengan total aset Rp 220,5 milyar dapat menjadi kekuatan ekonomi potensial bagi pembangunan, khususnya dalam mendorong sektor ekonomi kerakyatan,” ungkap Wali Kota Denpasar, AA Puspayoga dalam sambutannya yang dibacakan Wakil Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra saat HUT ke-9 Badan Kerja Sama Lembaga Perkreditan Desa (BKS LPD) Kota Denpasar di wantilan Desa Pakraman Pohgading, Ubung Kaja Denpasar Utara, Sabtu (3/11) lalu.
Peringatan ulang tahun ditandai dengan pelantikan pengurus BKS LPD masa bakti 2007-2011, yang diketuai I Made Sugita, S.Sos., (LPD Sesetan) dan sekretaris I Made Sutarka (LPD Anggabaya).
Wawali Rai Dharmawijaya Mantra juga menyerahkan dana bergulir Rp 1 milyar kepada 10 LPD, yaitu LPD Padang Sambian, Pedungan, Intaran, Sanur, Sumerta, Tonja, Cengkilung, Kedua, Penyaringan dan LPD Jenah.
Ia mengungkapkan, LPD dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi potensial, mengingat keunggulan yang dimilikinya. Di antaranya adanya kedekatan budaya dan psikologis dengan nasabahnya, lokasi yang terjangkau dan karakter bisnis yang luwes. “Kemajuan LPD dapat menjadi sumber pembiayaan bagi pengembangan ekonomi desa,” jelasnya.
Keberadaan LPD di desa pakraman selain sebagai lembaga pembiayaan yang efektif di tingkat desa, juga dapat menjadi pendorong pembangunan, meningkatkan daya beli masyarakat serta memperluas kesempatan kerja. “LPD diharapkan dapat menumbuhkan usaha kecil yang potensial di wilayah masing-masing yang akhirnya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
LPD juga telah ditetapkan menjadi pusat informasi UKM strategis dan pusat produktivitas warga. Menghadapi tantangan dan persaingan antarlembaga keuangan sejenis yang kian ketat, pengelola LPD diharapkan dapat meningkatkan profesionalisme dan kompetensi.
“Salah satunya dengan terus-menerus mengikuti pelatihan dan peningkatan wawasan,” ungkapnya. Di samping itu, LPD harus selalu menerapkan prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko, memanfaatkan teknologi informasi serta akses terhadap sumber pembiayaan yang mudah dan murah. “Upaya lainnya adalah dengan selalu mengadakan koordinasi dan kerja sama antar-LPD yang diwadahi oleh BKS LPD,” ungkapnya.
Ketua BKS LPD periode 2003-2007, I Made Pasti, S.E., menyatakan, diharapkan LPD mampu menjadi leading sektor mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil dan menengah yang ada. Pada gilirannya mampu mewujudkan dan meningkatkan kemandirian dalam membangun perekonomian desa.
“Masih banyak tugas yang menanti, seperti mewujudkan kerja sama pembiayaan antar-LPD atau sejenis inter LPD (cool money market), serta memantapkan kerja sama antar-LPD dalam BKS ini,” katanya. *yas
Minggu, 12 Juli 2009
PIPIS BOLONG UNTUK UPAKARA YADNYA
Pipis Bolong atau Jinah Bolong di Bali biasa dipergunakan buat upakara Yadnya. Pipis=Jinah=uang, begitu biasanya disebut benda sakral ini, sakral karena diperuntukkan dalam upakara Yadnya misalnya dipakai Akar Banten, Lis, Orti, Pedagingan dan sebagainya. Kalau dilihat dari bentuknya dapat dibedakan: Uang Koci, Wadon, Lanang-wadon, Pis Jepun, dan lain-lain. Kalau bahannya memberikan makna yang menyiratkan nilai spiritual, misalnya:
1. Besi, adalah kekuatan Dewa Wisnu berwarna hita dengan lokasi sesuai pangider-ider buana adalah di utara
2. Perak, adalah kekuatan Dewa Iswara berwarna putih dengan lokasi sesuai pangider-ider buana adalah di Timur (purwa)
3. Tembaga, adalah kekuatan Dewa Brahma berwarna merah dengan lokasi sesuai pangider-ider buana adalah di Selatan (Daksina)
4.Kuningan, adalah kekuatan Dewa Mahadewa berwarna kuning dengan lokasi sesuai pangider-ider buana adalah di Barat (pascima)
5. Emas, adalah kekuatan Dewa Siwa berwarna-warni dengan lokasi sesuai pangider-ider buana adalah di Tengah.
PIPIS BOLONG ini diproduksi oleh Industri Uang Kepeng "PANDE SARI" yang berada di Jl. Dukuh Pasirahan, bagi yang berminat untuk memesan Uang kepeng atau pipis bolong ini bisa menghubungi pemiliknya I Nyoman Jiwa atau dapat hubungi Hp: 087860626396
MAKNA huruf/aksara yang ada pada pipis bolong
Dalam uang kepeng/pipis bolong ada tulisan Bali sebagai berikut:

(Sa, Ba, Ta dan A)
Sa, singkatan Sadhyatata. Ba, singkatan dari Bamadewa. Ta, singkatan dari Tatpurusha sedangkan A, singkatan dari Aghora
Dan ada pada sisi satunya terdapat tulisan berikut:

(Ang dan Ah)
Aksara Ang dan Ah merupakan simbol dari Rwa Bhinneda,pradana-purusa dan pertiwi-akasa. Ang itu melambangkan wanita, dan Ah melambangkan ke-lanang-an. Oleh karenanya posisi aksara Ah di letakkan pada sisi atas, sedangkan aksara Ang di letakkan pada sisi bawah.
1. Besi, adalah kekuatan Dewa Wisnu berwarna hita dengan lokasi sesuai pangider-ider buana adalah di utara
2. Perak, adalah kekuatan Dewa Iswara berwarna putih dengan lokasi sesuai pangider-ider buana adalah di Timur (purwa)
3. Tembaga, adalah kekuatan Dewa Brahma berwarna merah dengan lokasi sesuai pangider-ider buana adalah di Selatan (Daksina)
4.Kuningan, adalah kekuatan Dewa Mahadewa berwarna kuning dengan lokasi sesuai pangider-ider buana adalah di Barat (pascima)
5. Emas, adalah kekuatan Dewa Siwa berwarna-warni dengan lokasi sesuai pangider-ider buana adalah di Tengah.
PIPIS BOLONG ini diproduksi oleh Industri Uang Kepeng "PANDE SARI" yang berada di Jl. Dukuh Pasirahan, bagi yang berminat untuk memesan Uang kepeng atau pipis bolong ini bisa menghubungi pemiliknya I Nyoman Jiwa atau dapat hubungi Hp: 087860626396
MAKNA huruf/aksara yang ada pada pipis bolong
Dalam uang kepeng/pipis bolong ada tulisan Bali sebagai berikut:

(Sa, Ba, Ta dan A)
Sa, singkatan Sadhyatata. Ba, singkatan dari Bamadewa. Ta, singkatan dari Tatpurusha sedangkan A, singkatan dari Aghora
Dan ada pada sisi satunya terdapat tulisan berikut:

(Ang dan Ah)
Aksara Ang dan Ah merupakan simbol dari Rwa Bhinneda,pradana-purusa dan pertiwi-akasa. Ang itu melambangkan wanita, dan Ah melambangkan ke-lanang-an. Oleh karenanya posisi aksara Ah di letakkan pada sisi atas, sedangkan aksara Ang di letakkan pada sisi bawah.
Selasa, 07 Juli 2009
INDUSTRI UANG KEPENG, ASUHAN LPD PEDUNGAN
LPD Pedungan, sebagai lembaga desa pakraman Pedungan berkewajiban menyangga setiap aktivitas masyarakatnya yang bergerak dibidang ekonomi pembangunan pedesaan. Salah satu asuhan kegiatan ekonomi kerakyatan yang menjadi binaan LPD Pedungan adalah "Industri Uang Kepeng Pande Sari" yang beralamat di Jalan Pulau Moyo - Banjar Dukuh Pasirahan - Pedungan. Menurut Bapak Nyoman Jiwa, pemilik usaha ini menyatakan bahwa usaha ini masih merupakan rintisan, sebagai suatu usaha rintisan diharapkan kedepan produk-produk dari Industri Uang Kepeng Pande Sari dapat diminati masyarakat terutamanya oleh masyarakat pedungan serta oleh khalayak lainnya. Sampai saat ini, lanjut keterangan Nyoman Jiwa, pendanaan usaha Industri Uang Kepeng Pande Sari masih dibantu dibina oleh lembaga keuangan desa yakni LPD Pedungan.
Sedangkan hasil atau produk uang kepeng dari Industri Uang Kepeng Pande Sari sudah dipergunakan sebagai bahan "Mendem Pedagingan" di Pura Dalem Desa Sanur Kauh dalam karya Melaspas lan Ngintig Linggih.
Sedangkan hasil atau produk uang kepeng dari Industri Uang Kepeng Pande Sari sudah dipergunakan sebagai bahan "Mendem Pedagingan" di Pura Dalem Desa Sanur Kauh dalam karya Melaspas lan Ngintig Linggih.
Langganan:
Postingan (Atom)