Tampilkan postingan dengan label pembinaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembinaan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 September 2012
UTSAWA DHARMAGITA 2012 DIBUKA DI DESA PAKRAMAN PEDUNGAN
Tahun ini Utsawa Dharmagita (UDG) tingkat kecamatan Denpasar Selatan diselenggarakan di desa Pedungan, mengambil tempat di Banjar Pande Pedungan untuk Pembukaannya. Sedangkan kegiatan lombanya (pacentokan) diadakan di dua tempat yakni di Banjar Pande dan di pura Desa. Acara pembukaan di hadiri oleh Bapak Walikota Denpasar, Bapak Camat, Bapak Kadis kebudayaan kota Denpasar, Bapak Lurah, Jro Bendesa se kecamatan Denpasar Seltan (Densel). Cukup meriah acara pembukaan kali ini, karena tempatnya cukup memadai untuk menampung para penontonnya, Banjar Pande menjadi hingar bingar dengan kegiatan acara ini, para pemuda, anak-anak maupun orangtua semuanya mengikuti acara pembukaan ini. Menurut rencana, acara Utsawa Dharmagita ini akan dilaksanakan selama dua hari yakni sabtu 22 September hingga Minggu 23 September 2012.
Rabu, 21 September 2011
TIM PENATAAN DAN EVALUASI DESA PAKRAMAN PROV. BALI TERJUN KE PEDUNGAN
Hari Rabu Paing wuku Uye, tanggal 21 September 2011 Tim Penataan Kelembagaan dan Evaluasi Desa Pakraman Prov. Bali terjun ke Desa Pakraman Pedungan Kecamatan Denpasar Selatan dalam rangkaian Evaluasi hasil Penataan Kelembagaan DP (desa pakraman). Pihak Tim dari Prov. Bali hadir 5 personel didampingi oleh pihak Wakil Wali Kota Denpasar beserta Tim Pembina dari Kota Denpasar dan disertai juga oleh Majelis Desa Pakraman Kota Denpasar, kurang lebih 60 personel yang mengunjungi Desa Pakraman Pedungan pada saat itu. Pihak tuan rumah atau Desa Pakraman Pedungan hadir kurang lebih 500 (lima ratus) orang/krama diantaranya adalah tokoh-tokoh masyarakat, krama dari 14 banjar di Pedungan.
Dalam usaha pemprov melestarikan nilai-nilai luhur budaya Bali yang dibentengi oleh kehidupan bermasyarakat ala Bali yakni model Desa Pakraman, maka pemprov Bali sangat menyadari sepenuhnya bahwa budaya Bali ada pada genggaman kehidupan Desa Pakraman. Untuk usaha itu, pemprov. Bali melalui kegiatan Pembinaan Penataan Kelembagaan DP, menerjunkan suatu Tim yang merupakan kegiatan berkesinambungan guna mencapai cita-cita luhur masyarakat Bali yakni TRI HITAKARANA (keseimbangan atau keselarasan kehidupan dimasyarakat). Tahun 2011 pemkot Denpasar menurunkan dua desa pakraman untuk memperoleh pembinaan, yakni Desa Pakraman Peguyangan dan Pedungan.
Setelah dibina kurang lebih 5 bulan sejak bulan April 2011 oleh pembina tingkat Kota Denpasar maupun Provinsi Bali, maka kini saatnya dilakukan evaluasi dari hasil pembinaan tersebut. Penilaiannya meliputi tiga ranah yang telah disebutkan di atas yakni bidang Parhyangan, bidang Pawongan dan bidang Palemahan, ketiganya itu merupakan uraian dari konsep Tri Hitakarana.
Setelah laporan dari Jro Bendesa Desa Pakraman Pedungan disampaikan dalam acara penilaian ini, pihak tim penilai menyampaikan sambutannya dengan antusias, menyatakan kegembiraan dan kekagumannya karena desa pakraman Pedungan telah menampilkan suasana yang memang diharapkan oleh tim penilai, yakni suatu suasana atau kondisi yang menyiratkan kerukunan dan kedamaian di desa pakraman sebagaimana telah disaksikan oleh tim penilai pada hari Rabu itu. Pihak perwakilan dari tim penilai menyampaikan ulasan yang panjang lebar tentang makna suguhan awal penyambutan dari pihak DP Pedungan yang menyuguhkan "Canang" atau base yang diserahkan oleh Jro Bendesa didampingi oleh Jegeg-jegeg dari sekeha teruna.
Dalam sesi penilaian oleh Tim, dalam hal ini meliputi ketiga ranah dari Tri Hitakarana, penilaian yang dilakukan di jeroan Pura Dalem Pakerisan adalah dari baga Parhyangan, kemudian di wantilan pura Dalem Pakerisan dilakukan penilaian pada baga Pawongan, sedangkan disekitar wilayah Pedungan seperti areal Pura Desa, Setra Gede, Setra Pitik maupun rumah contoh yang berlokasi di banjar Pitik dilakukan dalam kaitan baga Palemahan.
dipenghujung acara, pihak penilai disuguhkan tarian hiburan berupa joged bumbung. Terlihat disini para tim penilai sangat antusias dari terkesa gembira dalam kegiatan penilaian ini, terbukti pihak tim penilai banyak yang mengisi acara pengibingan. Dan komentar-komentar dari beberapa anggota tim yang dapat direkam oleh pihak masing-masing baga bahwa mereka sangat terkesan sekali dengan hasil pembinaan ini, apa yang merupakan penuntuan dalam proses pembinaan selam 5 bulan sebelumnya sudah diikuti oleh Desa Pakraman Pedungan.
Dalam usaha pemprov melestarikan nilai-nilai luhur budaya Bali yang dibentengi oleh kehidupan bermasyarakat ala Bali yakni model Desa Pakraman, maka pemprov Bali sangat menyadari sepenuhnya bahwa budaya Bali ada pada genggaman kehidupan Desa Pakraman. Untuk usaha itu, pemprov. Bali melalui kegiatan Pembinaan Penataan Kelembagaan DP, menerjunkan suatu Tim yang merupakan kegiatan berkesinambungan guna mencapai cita-cita luhur masyarakat Bali yakni TRI HITAKARANA (keseimbangan atau keselarasan kehidupan dimasyarakat). Tahun 2011 pemkot Denpasar menurunkan dua desa pakraman untuk memperoleh pembinaan, yakni Desa Pakraman Peguyangan dan Pedungan.
Setelah dibina kurang lebih 5 bulan sejak bulan April 2011 oleh pembina tingkat Kota Denpasar maupun Provinsi Bali, maka kini saatnya dilakukan evaluasi dari hasil pembinaan tersebut. Penilaiannya meliputi tiga ranah yang telah disebutkan di atas yakni bidang Parhyangan, bidang Pawongan dan bidang Palemahan, ketiganya itu merupakan uraian dari konsep Tri Hitakarana.
Setelah laporan dari Jro Bendesa Desa Pakraman Pedungan disampaikan dalam acara penilaian ini, pihak tim penilai menyampaikan sambutannya dengan antusias, menyatakan kegembiraan dan kekagumannya karena desa pakraman Pedungan telah menampilkan suasana yang memang diharapkan oleh tim penilai, yakni suatu suasana atau kondisi yang menyiratkan kerukunan dan kedamaian di desa pakraman sebagaimana telah disaksikan oleh tim penilai pada hari Rabu itu. Pihak perwakilan dari tim penilai menyampaikan ulasan yang panjang lebar tentang makna suguhan awal penyambutan dari pihak DP Pedungan yang menyuguhkan "Canang" atau base yang diserahkan oleh Jro Bendesa didampingi oleh Jegeg-jegeg dari sekeha teruna.
Dalam sesi penilaian oleh Tim, dalam hal ini meliputi ketiga ranah dari Tri Hitakarana, penilaian yang dilakukan di jeroan Pura Dalem Pakerisan adalah dari baga Parhyangan, kemudian di wantilan pura Dalem Pakerisan dilakukan penilaian pada baga Pawongan, sedangkan disekitar wilayah Pedungan seperti areal Pura Desa, Setra Gede, Setra Pitik maupun rumah contoh yang berlokasi di banjar Pitik dilakukan dalam kaitan baga Palemahan.
dipenghujung acara, pihak penilai disuguhkan tarian hiburan berupa joged bumbung. Terlihat disini para tim penilai sangat antusias dari terkesa gembira dalam kegiatan penilaian ini, terbukti pihak tim penilai banyak yang mengisi acara pengibingan. Dan komentar-komentar dari beberapa anggota tim yang dapat direkam oleh pihak masing-masing baga bahwa mereka sangat terkesan sekali dengan hasil pembinaan ini, apa yang merupakan penuntuan dalam proses pembinaan selam 5 bulan sebelumnya sudah diikuti oleh Desa Pakraman Pedungan.
Senin, 08 Agustus 2011
Sikap Eksklusif Berlebihan Ganggu Kerukunan Beragama
Sikap eksklusif dan tertutup, baik dalam hubungan intern umat beragama maupun hubungan antarumat beragama dapat mengganggu kerukunan hidup beragama. Sikap semacam ini cenderung menganggap kelompok sendiri yang paling benar.
Hal itu diungkapkan Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Bali Drs. IGAK Suthayasa, M.Si. di sela-sela persiapan seminar kerukunan umat beragama, Selasa (9/8) ini. Seminar tersebut menghadirkan pembicara Drs. IGAK Suthayasa, M.Si. dengan topik Kebijakan Kementerian Agama dalam Membina Kerukunan, Prof. Dr. P. Windia (Resolusi konflik, model dan strategi), Drs. I Gede Jaya, M.Si. (Pemetaan Konflik), Drs. Ida Bagus Gede Wiyana (Mengelola Konflik Membangun Damai), Raka Santri, M.Ag. (Agama dalam Bingkai Konflik) dan Jero Gede Suwena, S.H. (Konflik dan Pendekatan), dengan moderator I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H.
Kasubag Hukmas dan KUB Kanwil Kementerian Agama Prov. Bali I Nyoman Arya, S.Ag. M.Pd.H. menyatakan, seminar ini rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai program prioritas Kementerian Agama yaitu membina kerukunan umat beragama. Menurut Arya, yang juga sebagai penceramah agama, realisasi dalam membina kerukunan umat beragama melalui lima pilar yaitu pemeliharaan, peningkatan, pencegahan, penanganan dan rehabilitasi. Oleh karena konflik yang terjadi di kalangan umat beragama kerap merebak ketika cara pandang kelompok dan kepentingan yang lebih luas tidak sejalan. (08)
Hal itu diungkapkan Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Bali Drs. IGAK Suthayasa, M.Si. di sela-sela persiapan seminar kerukunan umat beragama, Selasa (9/8) ini. Seminar tersebut menghadirkan pembicara Drs. IGAK Suthayasa, M.Si. dengan topik Kebijakan Kementerian Agama dalam Membina Kerukunan, Prof. Dr. P. Windia (Resolusi konflik, model dan strategi), Drs. I Gede Jaya, M.Si. (Pemetaan Konflik), Drs. Ida Bagus Gede Wiyana (Mengelola Konflik Membangun Damai), Raka Santri, M.Ag. (Agama dalam Bingkai Konflik) dan Jero Gede Suwena, S.H. (Konflik dan Pendekatan), dengan moderator I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H.
Kasubag Hukmas dan KUB Kanwil Kementerian Agama Prov. Bali I Nyoman Arya, S.Ag. M.Pd.H. menyatakan, seminar ini rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai program prioritas Kementerian Agama yaitu membina kerukunan umat beragama. Menurut Arya, yang juga sebagai penceramah agama, realisasi dalam membina kerukunan umat beragama melalui lima pilar yaitu pemeliharaan, peningkatan, pencegahan, penanganan dan rehabilitasi. Oleh karena konflik yang terjadi di kalangan umat beragama kerap merebak ketika cara pandang kelompok dan kepentingan yang lebih luas tidak sejalan. (08)
Bendung Urban dengan Penguatan Awig-awig Desa Pakraman
Saat ini tingkat kepadatan penduduk Kota Denpasar mencapai 6.170 jiwa per kilometer persegi. Jumlah yang cukup luar biasa. Begitu derasnya arus migran ke Kota Denpasar, hingga desa pakraman didominasi oleh penduduk pendatang. Sebelum Bali tenggelam oleh ledakan pendatang yang tak terbendung, harus segera dicarikan solusinya, misalnya dengan menguatkan awig-awig desa. Demikian terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan Radio Global 96,5 FM, Senin (8/8) kemarin dengan topik, ''Penguatan Desa Pakraman''.
Pande di Pandak Gede berpendapat secara yuridis, desa pakraman disemangati oleh nilai agama Hindu yang secara esesial memformat desa pakraman untuk mampu merangkul krama untuk hidup berdampingan secara damai. Secara de facto, kondisi itu tidak bisa terwujud karena mereka yang datang tanpa identitas yang jelas dengan membeludak, sehingga proses adaptasi tidak bisa berjalan dengan baik seperti format yang direncanakan.
''Implikasinya adalah terjadi pembauran yang dipaksakan dan akhirnya memunculkan budaya baru yaitu budaya semi Barbarian,'' katanya. Fakta inilah yang terjadi saat ini yang membebani desa pakraman. Lebih jauh dia mengatakan kondisi ini sangat sulit dihadapi. Ibarat tanggul keropos yang hantam air bah sehingga tanggulnya jebol dan menghantam pemukiman di bawahnya, hingga tergerus banjir bandang. Penguatan desa pakraman akan terjadi apabila krama yang ada di dalamnya dengan segala tingkatan akan menjadi konsisten dengan ajaran agama melalui pemahaman yang harus banyak belajar tentang kesejatian diri. Jika tidak semua berpikiran tendensius, pragmatis dan materialistis justru yang akan terjadi adalah sebaliknya.
Menurut Yasa di Bukit, untuk penguatan desa pakraman mestinya ada beberapa faktor yang harus disepakati bersama yaitu, tetap melakukan sistem gotong royong, sebagai orang Hindu harus saling menghormati adat istiadat desa lain dan selalu melakukan pembinaan terhadap pemahaman agama. Jika itu sudah berjalan maka diharapkan hal tersebut dapat membendung membeludaknya penduduk pendatang. Tinggal Apakah mereka mampu beradaptasi atau tidak.
Dari sejarah yang dialami Jodog di Denpasar, desa pakraman di Denpasar bukan saja didatangi warga luar Bali, juga dari Bali sendiri. Mereka datang memadati desa adat. Sebagai sesama warga Bali mereka diterima dengan sejajar sehingga keberadaan mereka melebihi warga wed (warga asli). Lama- kelamaan penduduk asli menjadi tersingkirkan. Barulah akhirnya dibuatkan aturan. Siapapun boleh datang, namun dibatasi oleh aturan-aturan. Warga wed memiliki hak suara penuh.
Jika sekarang aturan desa pakraman dikuatkan dasarnya apa? Karena berpatokan kepada NKRI penduduk Indonesia boleh tinggal di mana saja dan dilindungi undang-undang. Maka akhirnya muncul klian adat dan klian dinas. Warga banjar adat memiliki hak penuh terhadap aset dan warisan banjar, seperti bale banjar, sedangkan warga pendatang hanya dalam kedinasan saja.
Menurut Gede Biasa di Denpasar, desa pakraman di Bali sebenarnya sudah memilki konsep untuk ketahanan desa pakraman yang sangat kuat. Hal ini dapat dilihat, ketika bentrok dengan desa lain, atau berebut aset desa mereka dengan kompak akan membela desanya. Seperti dalam kasus tapal batas dan bentrok masal antarbanjar. Sayang hal itu hanya bersifat ke dalam. Belum memiliki konsep keluar. Secara indvidu juga perlu pemahaman penguatan mental sehingga mereka tidak mudah terbawa dan menerima arus dari luar. (kmb)
sumber: http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=54831
Pande di Pandak Gede berpendapat secara yuridis, desa pakraman disemangati oleh nilai agama Hindu yang secara esesial memformat desa pakraman untuk mampu merangkul krama untuk hidup berdampingan secara damai. Secara de facto, kondisi itu tidak bisa terwujud karena mereka yang datang tanpa identitas yang jelas dengan membeludak, sehingga proses adaptasi tidak bisa berjalan dengan baik seperti format yang direncanakan.
''Implikasinya adalah terjadi pembauran yang dipaksakan dan akhirnya memunculkan budaya baru yaitu budaya semi Barbarian,'' katanya. Fakta inilah yang terjadi saat ini yang membebani desa pakraman. Lebih jauh dia mengatakan kondisi ini sangat sulit dihadapi. Ibarat tanggul keropos yang hantam air bah sehingga tanggulnya jebol dan menghantam pemukiman di bawahnya, hingga tergerus banjir bandang. Penguatan desa pakraman akan terjadi apabila krama yang ada di dalamnya dengan segala tingkatan akan menjadi konsisten dengan ajaran agama melalui pemahaman yang harus banyak belajar tentang kesejatian diri. Jika tidak semua berpikiran tendensius, pragmatis dan materialistis justru yang akan terjadi adalah sebaliknya.
Menurut Yasa di Bukit, untuk penguatan desa pakraman mestinya ada beberapa faktor yang harus disepakati bersama yaitu, tetap melakukan sistem gotong royong, sebagai orang Hindu harus saling menghormati adat istiadat desa lain dan selalu melakukan pembinaan terhadap pemahaman agama. Jika itu sudah berjalan maka diharapkan hal tersebut dapat membendung membeludaknya penduduk pendatang. Tinggal Apakah mereka mampu beradaptasi atau tidak.
Dari sejarah yang dialami Jodog di Denpasar, desa pakraman di Denpasar bukan saja didatangi warga luar Bali, juga dari Bali sendiri. Mereka datang memadati desa adat. Sebagai sesama warga Bali mereka diterima dengan sejajar sehingga keberadaan mereka melebihi warga wed (warga asli). Lama- kelamaan penduduk asli menjadi tersingkirkan. Barulah akhirnya dibuatkan aturan. Siapapun boleh datang, namun dibatasi oleh aturan-aturan. Warga wed memiliki hak suara penuh.
Jika sekarang aturan desa pakraman dikuatkan dasarnya apa? Karena berpatokan kepada NKRI penduduk Indonesia boleh tinggal di mana saja dan dilindungi undang-undang. Maka akhirnya muncul klian adat dan klian dinas. Warga banjar adat memiliki hak penuh terhadap aset dan warisan banjar, seperti bale banjar, sedangkan warga pendatang hanya dalam kedinasan saja.
Menurut Gede Biasa di Denpasar, desa pakraman di Bali sebenarnya sudah memilki konsep untuk ketahanan desa pakraman yang sangat kuat. Hal ini dapat dilihat, ketika bentrok dengan desa lain, atau berebut aset desa mereka dengan kompak akan membela desanya. Seperti dalam kasus tapal batas dan bentrok masal antarbanjar. Sayang hal itu hanya bersifat ke dalam. Belum memiliki konsep keluar. Secara indvidu juga perlu pemahaman penguatan mental sehingga mereka tidak mudah terbawa dan menerima arus dari luar. (kmb)
sumber: http://www.balipost.co.id/mediadetail.php?module=detailberita&kid=10&id=54831
Senin, 11 Juli 2011
PEMBINAAN DESA PAKRAMAN
Tahun 2011 merupakan giliran Desa pakraman Pedungan mewakili Kota Denpasar untuk pembinaan desa pakraman di tingkat provinsi Bali. Dalam rangkaian kegiatan pembinaan ini dilaksanakan beberapa kegiatan pembinaan yang dilakukan oleh Desa Pakraman Pedungan, oleh Kota Denpasar serta oleh Tim Pembina dan Evaluasi tingkat Provinsi Bali. Dari desa pedungan sendiri sudah melaksanakan beberapa kegiatan terkait dengan hal-hal yang diharapkan dalam pembinaan, misalnya kegiatan Kerja Bakti atau mereresik wewidangan setra pedungan (Setra Gede di Br. Kepisah, Setra Banjar Sama, Setra Banjar Pitik, Setra banjar Begawan, Setra Banjar Dukuh Pesirahan serta Setra banjar Pesanggaran), keenam setra ini disebut Sad Setra dalam Ilikita Desa Pakraman Pedungan.
Dari pihak Kota Denpasar, Tim Pembina dan Evaluasi Kota Denpasar melakukan pembinaan internal pada tanggal 19 Mei 2011 dan 13 Juli 2011 bertempat di Wantilan Pura Desa Pedungan, sedangkan dari pihak Tim Pembina dari Provinsi, melaksanakan pembinaan I pada tanggal 23 Mei 2011, pembinaan II pada tanggal 14 Juli 2011 dan Evaluasi akan dilaksanakan pada bulan September 2011.
Langganan:
Postingan (Atom)