PURWA WACANA

Om Swastiastu,

Desa Pakraman Pedungan memiliki pengurus yang telah di pilih pada Sabtu, 26 Maret 2011 Dengan susunan pengurus sebagai berikut: Bendesa : Drs. I Nyoman Sumantra; Penyarikan: I Nyoman Subaga; Patengen : Drs. I Gusti Putu Loka, Patajuh Parhyangan : I Nyoman Jiwa Pande, S.Sos; Patajuh Pawongan : I Made Badra; Patajuh Palemahan : Ir. I Ketut Adhimastra, M.Erg; Kasinoman: I Made Suardana, SE

Om Santhi, santhi, santhi Om


Tampilkan postingan dengan label FISIK LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label FISIK LINGKUNGAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Desember 2011

PERSIAPAN UPACARA JALAN TOLL BENOA - TUBAN - NUSA DUA

Diskusi mengenai tempat upacara 1

Sang Yajamana Karya

Kelian Banjar Pesanggaran ( I Wayan Widiada, SH)

Dskusi Jadwal Acara 

Bapak Arya (Fasilitator Proyek - Pemprov)

Diskusi Tempat Upacara 2

Penentuan Tempat Upacara

Penjelasan Ukuran Kesucian Menurut Agama Hindu

Ida Pedanda Gede Putra Bajing

Diskusi 3

Matur Piuning  1

Matur Piuning 2

Matur Piuning 3

Penentuan letak Upacara oleh Sang Yajamana

Ida Ayu Sarati Banten

Koordimator Kesenian (Bapak Natha)

Diskusi Pelaksanaan Jalannya upacara

Lay-out Tempat Upacara

Ida Bagus Budi Yoga  (Biro Kesra Pemprov Bali)

Pemangku Pura Segara di Benoa - Pedungan (I Made Widnya)
Sesuai rencana Pemerintah Pusat melalui PT. Jasa Marga, yang hendak membangun jalan Toll di Bali tepatnya di jalur atas laut perairan Benoa yang dekat dengan hutan mangrove, akan dibangun jalan Toll sepanjang ± 8,3 km. Jalan Toll ini akan dimulai pembangunannya dari Jalan Raya Benoa (Pelabuhan Benoa) menuju Tuban Patung Pahlawan Ngurah Rai hingga berakhir di Desa Bualu sebelah timur Pura Dalem Songit. 
Namun dalam artikel disitus http://baliholidayinfo.com/id/ menuliskan panajng jalan ini adalah 11,5 km
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan dimulainya pembangunan Serangan - Tanjung Benoa jalan tol untuk bulan April 2011, memproyeksikan bahwa jalan dapat diselesaikan hanya dalam tujuh bulan jika proyek tidak tertunda oleh pembebasan tanah. Menurut Bisnis.com, wakil yang bertanggung jawab atas infrastruktur dan logistik di BUMN, Sumaryanto Widayatin, mengatakan target ini didasarkan pada rekomendasi dari Departemen dan rencana investasi dari konsorsium lima perusahaan milik negara yang pendanaan proyek: PT Jasa Marga, PT Pelindo III, PT Angkasa Pura I dan PT Bali Tourism Development Corporation (BTDC).  (demikian ditulis oleh http://baliholidayinfo.com/id/.  
Dalam pada itu Desa Pakraman Pedungan sebagai salah satu desa yang paling dekat atau yang paling langsung kena dampak dari proses konstruksi maupun keberadaan jalan Toll ini diberi tugas untuk menyiapkan segenap upacara yang berkaitan dengan proses awal pembangunan Jalan Toll tersebut.
Hari ini, Wrespati, 15 Desember 2011 beberapa prajuru Desa Pakraman Pedungan maupun pejabat pemerintah Provinsi (Ida Bagus Buda Yasa) serta pihak fasilitator proyek di lapangan (pak Arya) yang dikomandani oleh Ida Pedanda Gede Putra Bajing melakukan kegiatan survey lapangan/lokasi atau istilah tradisinya  NODIA   untuk menentukan lokasi upacara mulang dasar maupun mapekelem yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2011. Saat itu juga dilakukan penyusunan acara yang akan dilakukan pada hari "H" nanti seperti proses nunas tirta dikahyangan Tri Guna Jagat: (Besakih - pinakan Pura Dalem, Pura Batur - pinaka Pura Desa, Pura Kentel Gumi - pinaka Pura Puseh) di Pura Jagat Bali (Uluwatu, Sakenan, Petitenget dan Puncak Mangu), ngelinggihang tirta, mendak Betara Tirta serta Nyakur tirtanya. Genah atau tempat prosesi upacara juga ditentukan saat itu.http://baliholidayinfo.com/id/content/konstruksi-jalan-tol-bali-hanya-dalam-9-bulan

Sabtu, 27 Agustus 2011

MENJAGA KEBERSIHAN SETRA

Dalam usaha menjaga kebersihan setra di Desa Pakraman Pedungan, maka pihak Prajuru Desa mengambil inisiatif untuk melakukan pembersihan dengan cara memanfaatkan potensi atau inventaris yang dimiliki desa/kelurahan, yakni memanfaatkan mesin cukur yang telah dimiliki oleh Kelurahan Pedungan sebanyak 2 (dua) buah unit mesin cukur. Walau terkesan mendesak kegiatan ini dilaksanakan, namun menurut Jro Bendesa Desa Pakraman Pedungan masih mungkin dilaksanakan guna menghadapi waktu Evaluasi dan Pembinaan Desa Pakraman yang akan dilaksanakan pada bulan September 2011.

Selasa, 28 Juni 2011

Kerja Bakti Nyanggra Galungan


Ring penyanggran rerahinan jagat Bali, inggih punika rahinan Galungan lan Kuningan krama desa Pakraman Pedungan ngemargiang pareresikan ring sajebag Setra sane wenten ring Desa Pakraman Pedungan, taler ring Parhyangan Kahyangan Tiga Desa (Puseh, Desa, lan Dalem Pakerisan).
Foto dokumentasi sane jangkep (lengkap) durus klik kemawon iriki

Jumat, 10 Juni 2011

PENCEMARAN LINGKUNGAN OLEH USAHA SABLON





Berkat dukungan DUKOM paguyuban 276 yang Jumat malam pukul 19.30 wita mengudara, dari pekak Roger yang diterima oleh beberapa breaker di paguyuban 276 menginformasikan bahwa ada pembuangan limbah cair yang dibuang secara diam-diam dimalam hari itu oleh suatu usaha sablon di daerah subak Nyalin sebelah barat pasar tradisional Pedungan di jalan Pulau Moyo. Begitu informasi diterima oleh para breaker paguyuban 276, dikomandani oleh Ketut Oscar (nama di udara) berangkat ke TKP bersama beberapa rekan seperti Deca pekak Kupang dan disertai dibelakangnya oleh Kak Panji dan kak Item, mereka langsung menuju ke tempat obyek yang dipermasalahkan, dan nyatalah sebuah pipa berukuran Ø 4" yang terletak di bawah jembatan beton depan usaha sablon milik bapak Herman.
Setelah diambil fotopipa limbah cair yang mengucurkan air berwarna-warni itu, para breakeran lantas masuk menyusup ke area kerja sablon yang ada di dalam bangunan di barat jalan/sungai. Disini kita menemukan posisi sumber limbah yang menjadi sumber pencemaran lingkungan. Yang hadir dari pihak perusahan sablon hanya anak buahnya yang memberikan informasi bahwa pak Herman sang pemilik perusahaan sablon ini sedang tidak ada di tempat. Oleh paktut Oscar diberikan peringatan kepada anak buah perusahan yang ada pada saat itu bahwa jika besok tidak ada usaha untuk menghentikan pembuangan limbah cair ini ke sungai, maka tindakan keras akan dilakukan buat perusahaan ini.

Selasa, 12 April 2011

Hama Ulat Bulu ‘Serang’ Denpasar Pemkot Ambil Langkah Antisipasi

Wabah ulat bulu nampaknya sudah kian meluas. Buktinya selain Probolinggo dan kawasan Jatim lainnya, yang kemudian menyebar ke Singaraja, kini hama ulat bulu ini sudah masuk Denpasar, tepatnya di komplek Perumahan Bank Sri Parta Jalan Siulan, Gang Raflesia, Banjar Laplap Tengah, Desa Penatih Dangin Puri, Denpasar Timur. Wabah ulat bulu ini langsung mendapatkan antisipasi oleh Pemkot Denpasar melalui Dinas terkait telah melakukan penyemprotan cairan pestisida.Pantauan di lokasi, Senin (11/4), keberadaan ulat bulu ini tidak hanya di pepohononan seperti Jeng Pinis, Sandat, Dapdap dan pohon waru, ulat bulu ini juga sudah sampai masuk ke beberapa rumah warga.

IB Sugamia pemilik rumah nomor 26 mengaku sejatinya ulat bulu tersebut sudah ada beberapa pohon samping rumahnya tersebut sejak empat hari sebelumnya. Namun baru Senin pagi, ulat tersebut sudah sampai di tembok dan teras rumahnya. “Awalnya saya kira, ulat biasa, jadi tidak seperti yang ada di Jawa dan Singaraja. Tapi kok lama-lama sampai ke rumah. Ternyata juga tidak di rumah saya saja, rumah tetangga yang lain juga ada yang kena, bahkan ada yang lebih parah,”jelas Sugamia

Terbanyak, ulat bulu ini menyerang rumah No 124. Menurut pemilik rumah, jumlahnya sampai puluhan. “Kemarin sore nempel di tembok, mungkin ada lebih dari 60 ekor. Langsung saya semprot dengan baygon (cairan pembasmi nyamuk),”akunya ditemui di lokasi.Sementara Kades Penatih Dangin Puri, Wayan Santa mengatakan kondisi ini tidak separah sebagaimana yang terjadi di jawa. Mungkin karena sudah musim. “Sebenarnya keberadaanya sudah ada sejak dulu, karena musim, dia muncul lagi. Mungkin karena kasus yang terjadi di jawa, dari warga sedekit resah dan was-was,”ucap Santa.

Camat Dentim, IB Alit menegaskan pihaknnya yakin ini tidak ada hubungannya dengan hawa ulat bulu di yang ada di Jatim. Alasannya di Bali pada masa sekarang ini, ulat bulu ini memang muncul dengan populasi yang lebih banyak. “Kalau di jawa yang diserang kan pohon mangga, kalau yang ini pohon sandat, waru dan lainnya,”ucap Alit. Untuk selanjutnya, alit mengaku akan menyerahkan ke instansi teknis.

Pada kesempatan yang sama, juga didatangi tim dari Balai Proteksi Tanamanan Pangan Terpadu dan Hortikultura (BPTPH) Porvinsi Bali. Petugas langsung mengambil sample sejumalh ulat bulu yang kemudian dimasukan ke box plastic. “Untuk selanjutnya akan kami periksa di laboratorium. Apakah jenisnya sama dengan yang ada di daerah lain. Setelah itu baru bisa diketahui metode pembasmiannya,”ucap petugas tersebut. Sementara dari informasi lain yang dapat dihimpun, ternyata selain di Dentim, hama ulat bulu ini juga menyerang Kecamatan Denpasar Utara tepatnya di Perumahan Nindya Indah, Jalan Seroja. Kasusnya sama, selain berada di pohon, ulat bulu ini juga sudah merambah ke tembok penyengker rumah warga. “Jenis ulat bulu yanga ada di Denut sama dengan yang ada di Dentim,”tandasnya.

Terkait hal ini, pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah setempat yakni Pemkot Denpasar, untuk meminta bantuan cairan pestisida, untuk dilakukan foging atau penyemprotan. “Untuk sementara ini kita akan lakukan foging. Namun jika keberadaan ulat bulu yang kalau di Bali disebut Ulat Singet ini terus mewabah. Kemungkinan, ke depan kita akan lakukan yadnya yakni upacara Pamlepeh atau pembersihan,”jelasnya.
sumber: http://www.denpasarkota.go.id/

Jumat, 05 Februari 2010

DENPASAR GO CLEAN AND GREEN


Denpasar (Denpasarkota.go.id), Guna mewujudkan Denpasar yang Bersih dan Hijau (Clean And Green) ribuan batang pohon dari berbagai jenis kemarin disebar keseluruh Kecamatan di Kota Denpasar. Bak gayung bersambut masyarakat pun menindaklanjuti dengan melakukan penanaman serentak dimasing-masing lingkungannnya. Seperti yang dilakukan masyarakat Kelurahan Pedungan, ribuan masyarakat dari berbagai komponen tumpah ruah turun ke jalan melakukan penanaman pohon yang dimulai dari Br. Pande hingga Br. Karangsuwung Minggu (31/1)

Wakil Walikota Denpasar I G N Jaya Negara yang hadir dalam kesempatan tersebut didampingi Ketua Komisi C DPRD Kota Agus Arya Wibawa, Camat, Kades/Lurah dan Tokoh-Tokoh masyarakat setempat sebelum melakukan penanaman berkesempatan menyerahkan bantuan berupa gerobak sampah kepada masyarakat Kelurahan Pedungan. Usai menyerahkan bantuan Wakil Walikota juga menyempatkan diri meninjau pengobatan kesehatan gratis yang digelar di halaman banjar. Selanjutnya Wawali bergegas menuju areal tempat dilakukannya penanaman pohon yaitu disekitar bahu-bahu jalan. Menurut Jaya Negara ribuan pohon yang sudah disebar keseluruh Kecamatan mudah-mudahan mampu membuat hijau dan meperindang Kota Denpasar. Dia juga berharap agar masyarakat ikut pula memantau dan menjaga pohon-pohon yang sudah ditanam ini dengan baik seperti membuatkan stager agar tanaman tidak rebah, menyiram dan lain sebagainya. Untuk menjaga keindahan dan hijaunya Kota Jaya Negara juga mengingatkan hendaknya masyarakat jangan sembarangan melakukan penebangan pohon, jikapun terpaksa dilakukan agar berkoordinasi terlebih dahulu dengan Dinas Kebersihan Dan Pertamanan Kota Denpasar (DKP). Jika ini sudah dilakukan niscaya untuk mewujudkan Denpasar yang indah, rindang, hijau dan besih pasti segera akan terwujud. ”Menjaga kebersihan lingkungan amat penting artinya bagi masa depan anak cucu kita”, ujarnya. Sebab dengan lingkungan yang bersih sudah pasti akan mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat itu sendiri, dampaknya mereka jadi jarang sakit karena terhindar dari wabah penyakit dan sebagainya. Untuk itu ”Mari tingkatkan kepedulian dan kecintaan kita terhadap lingkungan”, himbaunya.

Sementara I Nyoman Lodra Lurah Pedungan ketika ditemuai usai melakukan penanaman mengatakan salut dan terimakasih kepada Pemerintah Kota Denpasar yang telah membantu memberikan gerobak sampah dan ribuan tanaman penghijauan. Mudah-mudahan dengan adanya bantuan ini masyarakat kami akan semakin peduli dan lingkungan Kelurahan Pedungan akan semakin rindang dan hijau, ujarnya. (Sdn)
Sumber berita: klik disini

Senin, 01 Februari 2010

Desa Pakraman Pedungan Limbah Garmen Menyurut, Sampah Rumah Tangga ''Menyerbu''

KETIKA industri garmen, sablon dan pencelupan meraih puncak kejayaan di era 1990-an lalu, wawengkon Desa Pakraman Pedungan dikenal sebagai sentra industri penghasil limbah yang sarat dengan kandungan logam berat berbahaya tersebut. Paling tidak, lima dari 14 banjar di Desa Pakraman Pedungan yakni Banjar Pitik, Banjar Sawah, Banjar Geladag, Banjar Dukuh Pesirahan dan Banjar Begawan sempat "disesaki" industri yang mengalami booming bersamaan dengan masa jaya kepariwisataan Bali itu. Bagi pengusaha, kelima banjar itu dinilai sangat strategis untuk mendukung aktivitas usahanya lantaran dibelah oleh aliran anakan Tukad Badung. Pertimbangan yang sangat praktis, mengingat mereka tidak perlu jauh-jauh mencari tempat untuk mencuci lembaran kain pascadicelup termasuk membuang limbah sisa aktivitas pencelupan.
===========================================================
Posisi yang strategis itu justru melahirkan penderitaan panjang bagi krama di desa pakraman yang didukung 2.192 kepala keluarga (KK) itu. Saat itu bukan pemandangan aneh jika aliran anakan Tukad Badung di sekitar Pedungan senantiasa semarak warna. Terkadang berwarna merah, kuning, hijau, biru hingga hitam pekat serta berbagai variasi warna lainnya. Tergantung dari warna bahan pencelup yang digelontor ke dalamnya. Pedungan tercemar berat.
Sementara itu, krama setempat harus menanggung derita akibat perilaku tidak ramah lingkungan para pengusaha yang mengejar keuntungan materi semata. Ketika gemerlap kepariwisataan Bali mulai memudar akibat ledakan dua kali bom yang datang beruntun, aktivitas industri yang sangat potensial memporak-porandakan kesehatan lingkungan jika salah kelola itu pun menyurut.
Satu per satu industri garmen, sablon dan pencelupan di Pedungan "beku" operasi.
Tetapi, penderitaan krama Pedungan belum berakhir. Begitu limbah industri yang sarat dengan kandungan logam berat itu menyurut, krama kembali dipusingkan dengan "serbuan" sampah rumah tangga yang menyesaki badan sungai. Sampah rumah tangga itu diyakini bukan murni "produk" krama Pedungan, tetapi sebagian besar merupakan "sampah kiriman" yang datang dari daerah hulu. Posisi Pedungan yang berada di daerah hilir, tampaknya menjadikan desa pakraman berpenduduk 12.242 jiwa ini tidak bisa "steril" dari permasalahan limbah.
Permasalahan Serius
Ditemui Bali Post, Kamis (3/4) lalu, Bendesa Pakraman Pedungan I Nyoman Sumantra didampingi Penyarikan I Gusti Putu Loka, Petajuh Parahyangan I Nyoman Jiwa Pande dan Klian Banjar Pitik I Wayan Manggis mengakui bahwa permasalahan limbah merupakan permasalahan serius di wilayahnya. Meskipun jumlah industri garmen, sablon dan pencelupan menurun drastis dibandingkan di era 1990-an, pencemaran dari sektor ini masih kerap kali terjadi. Tetapi, pihaknya tidak berani memvonis bahwa pembuangan limbah itu dilakukan oleh pengelola usaha yang berlokasi di wilayahnya. Alasannya, di daerah hulu Pedungan juga masih banyak beroperasi usaha sejenis. Jika pengusaha di daerah hulu tetap membuang limbah, tentu saja limbah itu akan tetap sampai ke Pedungan terbawa aliran sungai. "Memang tidak cukup bukti untuk memvonis pengusaha di sini yang membuang limbah berbahaya itu. Terkecuali jika mereka memang tertangkap tangan saat membuang limbah itu ke sungai," kata Sumantra yang dibenarkan oleh prajuru-prajuru lainnya.
Dia menambahkan, pencemaran akibat limbah industri garmen, sablon dan pencelupan itu memang telah menciptakan mimpi buruk bagi krama Pedungan yang bermukim di pinggiran daerah aliran sungai. Meskipun puncak pembuangan limbah itu terjadi beberapa tahun silam, dampak negatif yang diakibatkannya masih dirasakan krama hingga saat ini. Sumur-sumur warga tidak bisa lagi diandalkan sebagai pemasok kebutuhan air minum, mandi, cuci dan kakus (MCK) karena sudah tercemar logam berat. Nasib mengenaskan juga harus ditanggung para petani Pedungan yang menggantungkan sumber penghidupan dari bertanam padi.
Ketika limbah sablon "menjamah" areal pertanian, tanaman padi yang ditanam petani mulai enggan menyemaikan bulir-bulir padi yang bernas. Produksi padi anjlok ke level terendah. Tidak hanya itu, para petani yang terpaksa mengairi sawahnya dengan air dari irigasi yang tercemar limbah sablon itu mendadak mengeluhkan gatal-gatal di sekujur tubuhnya. "Sumur-sumur di sini sudah tercemar. Petani pun enggan bertani lantaran hasil panen tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan," keluhnya.
Pendapat senada juga dilontarkan Klian Banjar Pitik I Wayan Manggis. Pada awal kemunculannya, kata dia, krama Pedungan belum begitu ngeh dengan dampak negatif yang mengiringi operasional industri sablon itu. Sejumlah krama tanpa pikir panjang mau mengontrakkan tanah yang mereka nilai tidak produktif kepada para pengusaha sablon yang sebagian besar merupakan penduduk pendatang. Ketika limbah berbahaya itu mulai menebar ancaman serius bagi kesehatan, mereka baru terperangah.
"Saking jengkelnya, beberapa tahun lalu warga di sini sempat ramai-ramai turun ke sungai dan menutup saluran pembuangan limbah sejumlah pengusaha yang dialirkan ke sungai. Setelah kejadian itu, pengawasan dari instansi terkait di Pemkot Denpasar makin diintensifkan. Sidak-sidak yang menyasar industri garmen, sablon dan pencelupan makin sering digelar," katanya.
Masih Kucing-kucingan
Pengawasan intensif itu, katanya, memang membuahkan hasil. Paling tidak, aktivitas pembuangan limbah secara langsung ke sungai berhasil ditekan. Namun, dia mengakui masih ada juga sejumlah pengusaha yang secara kucing-kucingan membuang limbahnya ke sungai tanpa dinetralkan terlebih dahulu di instalasi pengolahan air limbah (IPAL). "Ada juga pengusaha yang bandel. Mereka membuang limbah berbahaya itu malam hari ketika krama di sini tertidur pulas. Keesokan harinya kami sudah mendapati air sungai penuh warna tanpa tahu dari mana sumbernya. Masih ada yang kucing-kucingan," katanya dengan nada geram.
Sumantra dan Manggis mengakui pencemaran limbah industri garmen, sablon dan pencelupan memang tidak sedahsyat ketika industri itu berada di puncak kejayaannya. Selain jumlah industri itu menurun drastis lantaran sepi orderan, boleh jadi kesadaran pengusaha untuk membangun IPAL makin baik seiring intensifnya pembinaan dan sidak-sidak yang digelar instansi terkait di Pemkot Denpasar.
"Kami berharap pengusaha yang saat ini belum memiliki IPAL secepatnya membangun fasilitas tersebut. Kami tidak pernah melarang orang berusaha, tetapi taati juga ketentuan yang dipersyaratkan sehingga para pengusaha bisa berusaha dengan tenang," kata Sumantra penuh harap.
Penyarikan I Gusti Putu Loka menambahkan, saat ini krama Pedungan juga pusing memikirkan sampah rumah tangga yang menyumbat aliran sungai. Ironisnya lagi, pihaknya tidak tahu pasti dari mana sumber sampah itu sehingga sulit melakukan pembinaan maupun pengawasan. Tahu-tahu, sampah itu sudah berserakan di badan sungai. Padahal, pihak desa pakraman maupun Dinas Lingkungan Hidup Kota Denpasar sudah memasang papan-papan larangan di sejumlah lokasi strategis di mana sampah rumah tangga ditemukan menumpuk.
"Kalau yang membuang sampah itu hanya warga di sini, rasanya tumpukan sampah itu tidak sebanyak itu. Kami menduga, sebagian besar dari tumpukan sampah itu merupakan sampah kiriman yang hanyut terbawa aliran sungai dan kampih (terdampar-red) di Pedungan," katanya.
Keluhan senada juga dilontarkan I Wayan Manggis. Ditegaskan, sangat sulit menuding siapa yang sejatinya bertanggung jawab atas tumpukan sampah itu. Yang jelas, krama Pedungan merasa sangat dirugikan karena wilayahnya menjadi jorok dan berbau tidak sedap. "Untuk bisa mengetahui di mana sejatinya sumber sampah itu, saya berharap instansi terkait di Pemkot Denpasar memasang jaring-jaring penahan sampah di setiap perbatasan desa. Di daerah mana sampah itu menumpuk paling banyak, maka bisa dipastikan di sanalah sebenarnya pusat dari permasalahan itu. Tanpa jaring penahan sampah itu, Pedungan akan selamanya menjadi keranjang sampah karena berlokasi di daerah hilir. Lagi-lagi krama di sini yang paling dirugikan," ujarnya. * w. sumatika
Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/7/bd3.htm