Desa Pakraman Pedungan memiliki pengurus yang telah di pilih pada Sabtu, 26 Maret 2011 Dengan susunan pengurus sebagai berikut: Bendesa :Drs. I Nyoman Sumantra; Penyarikan: I Nyoman Subaga; Patengen : Drs. I Gusti Putu Loka, Patajuh Parhyangan : I Nyoman Jiwa Pande, S.Sos; Patajuh Pawongan : I Made Badra; Patajuh Palemahan : Ir. I Ketut Adhimastra, M.Erg; Kasinoman: I Made Suardana, SE
Pemangku Pura Segara di Benoa - Pedungan (I Made Widnya)
Sesuai rencana Pemerintah Pusat melalui PT. Jasa Marga, yang hendak membangun jalan Toll di Bali tepatnya di jalur atas laut perairan Benoa yang dekat dengan hutan mangrove, akan dibangun jalan Toll sepanjang ± 8,3 km. Jalan Toll ini akan dimulai pembangunannya dari Jalan Raya Benoa (Pelabuhan Benoa) menuju Tuban Patung Pahlawan Ngurah Rai hingga berakhir di Desa Bualu sebelah timur Pura Dalem Songit.
Namun dalam artikel disitus http://baliholidayinfo.com/id/ menuliskan panajng jalan ini adalah 11,5 km
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menargetkan dimulainya pembangunan Serangan - Tanjung Benoa jalan tol untuk bulan April 2011, memproyeksikan bahwa jalan dapat diselesaikan hanya dalam tujuh bulan jika proyek tidak tertunda oleh pembebasan tanah. Menurut Bisnis.com, wakil yang bertanggung jawab atas infrastruktur dan logistik di BUMN, Sumaryanto Widayatin, mengatakan target ini didasarkan pada rekomendasi dari Departemen dan rencana investasi dari konsorsium lima perusahaan milik negara yang pendanaan proyek: PT Jasa Marga, PT Pelindo III, PT Angkasa Pura I dan PT Bali Tourism Development Corporation (BTDC). (demikian ditulis oleh http://baliholidayinfo.com/id/.
Dalam pada itu Desa Pakraman Pedungan sebagai salah satu desa yang paling dekat atau yang paling langsung kena dampak dari proses konstruksi maupun keberadaan jalan Toll ini diberi tugas untuk menyiapkan segenap upacara yang berkaitan dengan proses awal pembangunan Jalan Toll tersebut.
Hari ini, Wrespati, 15 Desember 2011 beberapa prajuru Desa Pakraman Pedungan maupun pejabat pemerintah Provinsi (Ida Bagus Buda Yasa) serta pihak fasilitator proyek di lapangan (pak Arya) yang dikomandani oleh Ida Pedanda Gede Putra Bajing melakukan kegiatan survey lapangan/lokasi atau istilah tradisinya NODIA untuk menentukan lokasi upacara mulang dasar maupun mapekelem yang rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 21 Desember 2011. Saat itu juga dilakukan penyusunan acara yang akan dilakukan pada hari "H" nanti seperti proses nunas tirta dikahyangan Tri Guna Jagat: (Besakih - pinakan Pura Dalem, Pura Batur - pinaka Pura Desa, Pura Kentel Gumi - pinaka Pura Puseh) di Pura Jagat Bali (Uluwatu, Sakenan, Petitenget dan Puncak Mangu), ngelinggihang tirta, mendak Betara Tirta serta Nyakur tirtanya. Genah atau tempat prosesi upacara juga ditentukan saat itu.http://baliholidayinfo.com/id/content/konstruksi-jalan-tol-bali-hanya-dalam-9-bulan
Dalam rangkaian merersik di Pura Penataran Sari Desa pakraman Pedungan, maka pada hari Minggu 8 Mei 2011 diadakan acara pemunggelan Unen-unen duwe Pura Penataran Sari. Unen-unen dimaksud berupa Jro Istri dan Lanang, Gelungan Legong dan Anoman.
Ritatkala rahina Soma 15 Maret 2010, sawusan ngemargiang upacara pamelastian sane sampun memargi ring rahina Sukra 12 Maret 2010 (sakadi pamutus paruman desa) ida dane krama desa Pedungan ngelaksanayang tawur kesanga ring Bale Agung Pura Desa Pedungan. Slide lan Video sane polih kaunggahang prasida mangkin klik iriki:
Keterangan Foto: (dari kiri ke kanan lalu ke bawah) 1. Pemberi pencerahan Drs. Ida Bagus Gde Sudharsana, Ketua Yayasan Dharma Acarya 2, 3 Ketua Yayasan Dharma Acarya ketika memberi pencerahan dihadapan para pemangku Pura Kahyangan Tiga dan Jero Bendesa ketika membuka acara "Dharmatula Ngusabha Desa dalam konteks Sastra" 4. Tokoh masyakat dan para peserta dharmatula Dalam rangkaian rencana Desa Pakraman untuk melaksanakan Karya Agung: Ngusabha Desa di desa Pakraman Pedungan, prajuru desa dalam hal ini Bendesa berinisiatif melaksanakan acara pencerahan mengenai Karya Ngusabha dalam konteks sastra. Pencerahan ini dibawakan oleh Drs. Ida Bagus Gde Sudharsana atas nama Yayasan beliau yang diikuti oleh para pemangku Pura Kahyangan Tiga beserta pemangku prasanak, kemudian diikuti pula oleh prajuru banjar di desa pakraman Pedungan
Serangkaian dengan hari raya Tumpek Wayang, dimana Pura Puseh Desa Pedungan secara rutin melaksanakan Upacara khusus untuk kesenian Gambuh pada hari Saniscara Kajeng Kliwon Wuku Wayang. Besok harinya, Minggu seperti biasanya setiap tahun sekali Sesuhunan Ratu Ayu beserta sekeha Gambuh pedek tangkil ke Pura Dalem Kauh banjar Pejeng Aji di Desa Tegalalag – Gianyar.
Selintas sejarah: Kapan kegiatan tangkil ini dimulai? Mengapa aktivitas ini terjadi hingga saat ini? Menurut keterangan Ketua Sekeha Gambuh I Wayan Sukana, bahwa secara pasti sulit dipastikan kapan mulainya kegiatan tangkilnya Gambuh di Pura Puseh Desa Pedungan ke Pura Dalem Kauh banjar Pejeng Aji di Desa Tegalalag – Gianyar ini. Hanya dapat diperkirakan karena itu sudah terjadi sejak lama (purwa dresta – ini terjadi sejak dulu), mungkin lebih dari 200 tahun yang lalu dengan perkiraan pekaknya I Wayan Sukana menceritakan katanya sudah “nami” (mewarisi) seperti ini menurut pekaknya juga (kakek buyut).
Kenapa ini sampai terjadi? Juga tidak bisa dipastikan karena tidak ada catatan yang tertinggal yang mampu menjelaskan hal ini. Hanya menurut perkiraan pula bahwa ini berkaitan dengan jenis kesenian (tari Gambuh) yang besar kemungkinan datangnya dari Desa Tegalalang, sehingga untuk tidak terjadinya hilangnya hubungan itu maka setiap setahun sekali kegiatan tangkil ini diadakan oleh Pengemong Pura Puseh Desa Pedungan.
Ada beberapa kesenian atau sekeha yang terlibat dalam kegiatan di Pura Dalem Kauh Pejeng Aji, seperti:
Geguntangan dengan sekeha Arja Negaknya
Gamelan Selonding milik Desa yang merupakan hadiah dari pihak Puri Peliatan
Sekeha Gong Desa yang ngaturang ayah setiap Rerahinan seperti saat ini Saniscara 7 Februari 2010
Sekeha Tari Gambuh Desa Pedungan
Ada yang menarik pada setiap kali mengikuti acara seperti ini, senantiasa ada turis manca negara yang ikut serta dalam upacara ini sekalipun hanya sebagai penonton yang mengamati bagaimana orang Bali melakukan upacara keagamaannya, sekalian juga menikmati kesenian Bali secara gratis. Namun untuk upacara kali ini ada yang khusus, karena saat tampilnya Tarian Gambuh, ada seorang penabuh asing (Jepang) yang aktif dalam meniup seruling Gambuh yang demikian panjangnya. Agak aneh memang, belum pernah wanita Bali yang meniup seruling Gambuh. Iseng menanyakan gadis si peniup seruling Gambuh itu, namanya Masako yang menekuni Gambuh khusus seruling sejak 2 (dua) tahun yang lalu.
Catatan Foto (dari atas ke bawah - dari kanan ke kiri): 1. Foto Pemangku (Kak Toko) menghaturkan tawur disore hari di pertigaan desa; 2. Foto Mangku Sarin Peken menghaturkan sesajen untuk mengawali tabuh-rah; 3 dan 4 Foto pada saat Unen-unen Ida Betara tedun ke pertigaan Desa Pedungan, di malam harinya
Pada hari Selasa atau Anggara kasih wuku Tambir yang jatuh pada tanggal 8 Desember 2009, Ida dane krama desa Pakraman Pedungan melaksanakan upacara Pecaruan di pertigaan desa (disebut juga sebagai perempat agung desa). Sesuai dengan hasil rapat para Prajuru Banjar serta Prajuru Desa Pakraman Pedungan diawal tahun 2009, telah disepakati untuk melaksanakan tawur (Caru) sasih ke - 6 pada tanggal 8 Desember 2009. Tindaklanjut dari rencana tawur sasih ke - 6 ini kepada masing-masing banjar disarankan agar mengumumkan kepada masing-masing warga banjarnya untuk nancebang sanggah cucuk (memasang sanggah cucuk) didepan rumahnya pada hari Anggara Kasih wuku Tambir ini, selanjutnya pada sore harinya masing-masing warga banjar nunas tirta tawur ke banjar (sebelumnya pihak prajuru banjar nunas tirtta terlebih dahulu ke desa). Makna umum daripada CARU yang tergolong upacara Butha Yajña, adalah: Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan, untuk mewujudkan Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita).
"Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani."
Artinya:
Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk.
"Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mâng dharma, artha kama moksha."
Artinya:
Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha.
Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb:
"Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan."
Dalam Bhagavadgita III, 14 disebutkan, karena makanan, makhluk hidup menjelma, karena hujan tumbuhlah makanan, karena persembahan (yajña) turunlah hujan, dan yajña lahir karena kerja.
Dalam kenyataannya, kita bisa melihat sendiri, binatang hidup dari tumbuh-tumbuhan, manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Dengan demikian jelaslah, tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup, yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani.Petikan artikel di atas menekankan pada makna umum daripada CARU, sedangkan untuk Caru yang dikaitkan dengan caru pada saat sasih ke - 6 memiliki makna tertentu, apalagi di desa Pakraman Pedungan ada beberapa jenis pelaksanaan pecaruan seperti:
Caru pada sasih ke - 6 yang dilaksanakan di peteluan desa
Caru pada sasih ke - ... yang dilaksanakan di tepisiring desa pakraman Pedungan
Caru pada masing perempatan atau pertigaan banjar di lingkungan desa pakraman Pedungan
Keunikan masyarakat pakraman Pedungan dalam hal melaksanakan pecaruan memang membutuhkan pemahaman lebih lanjut agar umat atau masyarakat tidak sekedar melaksanakan upacara namun tidak memahami makna yang terkandung dibalik tujuan luhurnya.
Kegiatan rutin Desa Pakraman Pedungan di tahun 2009 ini salah satunya adalah mengiringi Unen-unen Ida Betara Dalem Lunga ke pura Penataran Pesanggaran yang jatuh pada dina Rabu 2 Desember 2009, yang mendapat tugas nyanggra atau menyelenggarakan kegiatan ini adalah Krama Banjar Kepisah, Pengemong, Pemangku, Pemaksan Pura Dalem Pakerisan, Prajuru Banjar lan Prajuru Desa sebagaimana telah tertuang dalam jadwal kegiatan rutin Desa Pakraman Pedungan. Menurut keterangan Bapak Nyoman Jiwa (salah satu keluarga pengemong Pura Penataran Pesanggaran) Pura Penataran ini memang di emong oleh keluarganya dan mulai menjadi parhyangan yang disiwi oleh masyarakat umumsemenjak pembangunan pelabuhan Benoa, ini berarti sewaktu jaman penjajahan Jepang. Konon pada saat mulainya pembangunan pelabuhan Benoa itu, ada beberapa pekerja pembangunan pelabuhan itu meninggal yang kemudian ditanam (dikubur) didekat sekitar pura ini tepatnya sebelah selatan Pura Penataran. Disamping ada yang mati ada pulayang mengalami bencana (baik itu karena sakit atau karena kecelakaan), beberapa orang pekerja yang sakit itu ada yang nunas atau memohon keselamatan di pura ini. Mungkin karena merasa permohonannya terkabulkan dan merasa mendapatkan keselamatan dan kesehatan dari pura ini, maka mereka meneruskan rasa baktinya ke pura penataran ini dengan menghaturkan banten atau setidaknya cukup canang sari guna memperoleh keselamatan serta kesehatan. Sejak itu, pura Penataran ini jadi lebih sering di kunjungi oleh para pemedek yang mengharapkan keselamatan dalam bekerja di sekitar Pelabuhan Benoa ini. Selanjutnya ada beberapa unen-unen juga selain Unen-unen Ida Betara Pura Dalem Pakerisan yang lunga ke Pura Penataran ini seperti unen-unen: Banjar Pesanggaran, Banjar Ambengan maupun banjar Gaduh Desa Sesetan. Dalam kesempatan ini pula Bendesa Desa Pakraman Pedungan menyampaikan hal-ihwal mengapa unen-unen Ida Betara Pura Dalem Pakerisan lunga kesini, ini terjadi lantaran bahan mentah (kayu) untuk pembuatan tapel atau prerai unen-unen di Pura Dalem Pakerisan diperoleh dari pohon yang tumbuh di Pura Penataran Pesanggaran ini, sehingga untuk selanjutnya pada saat Pujawali di Pura Penataran ini maka unen-unen Ida Betara Pura Dalem Pakerisan lunga juga sebagaimana halnya pujawali hari ini.
Ada suatu upacara menarik di bulan Juli 2009 ini, khususnya di Desa Pedungan. Yakni suatu upacara untuk maprascita kober atau Tunggul desa yang setelah di perbaiki (renovasi) dengan cara menjarit kober yang bagian-bagiannya mengalami kerusakan. Jadi setelah direnovasi maka diadakan suatu upacara pamrascita yang diadakan di areal perempatan desa, tepatnya di depan Pura Desa Keterangan Foto: 1. Tunggul desa yang diiring ke pura desa 2. Tunggul desa yang ditempatkan di perempatan desa untuk diperascita 3. Upacara pamerascita dengan ditandai caru kucit butuan 4. Kucit butuan yang dipersembahkan dengan panyembelehan memakai Keris Sapujagat 5. dan 6. Trance yang terjadi ketika diadakan upacara pamerascita Cerita menarik dibalik Druwen Desa ini (Tunggul Desa) ini adalah bahwa konon druwe ini diperoleh dengan memendak (menjemputnya) di atas pohon kelapa, dan cara mengetahuinya pun cukup unik yakni melalui suatu kondisi trance, jadi yang bersangkutan memendak druwe ini dalam kondisi trance. Fungsi druwe ini (Tunggul Desa), sekarang dipakai untuk membuka jalan secara niskala ketika dilaksanakan Pamelisan, ketika diadakan pamelisan maka Tunggul ini yang berada di urutan terdepan baru kemudian diikuti oleh iring-iringan lainnya (bhs Bali: mapeed).