PURWA WACANA

Om Swastiastu,

Desa Pakraman Pedungan memiliki pengurus yang telah di pilih pada Sabtu, 26 Maret 2011 Dengan susunan pengurus sebagai berikut: Bendesa : Drs. I Nyoman Sumantra; Penyarikan: I Nyoman Subaga; Patengen : Drs. I Gusti Putu Loka, Patajuh Parhyangan : I Nyoman Jiwa Pande, S.Sos; Patajuh Pawongan : I Made Badra; Patajuh Palemahan : Ir. I Ketut Adhimastra, M.Erg; Kasinoman: I Made Suardana, SE

Om Santhi, santhi, santhi Om


Rabu, 15 Juli 2009

Gede Geruh: Mahaputra Gambuh Badung Putra-putri Tradisi Utama Bali (32)

Artikel mengenai Geruh dengan Gambuhnya ini disunting dari situs http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2003/8/31/ap4.html
BERUNTUNGLAH Bali punya mahaputra bernama I Gede Geruh. Dari lelaki yang diperkirakan lahir tahun 1915 di Banjar Puseh, Desa Pedungan, Badung, inilah tari klasik tertua Bali, Gambuh, kelak bisa direkonstruksi, lalu masuk ke dalam kurikulum lembaga pendidikan seni formal di Bali. Untuk keperluan itu, praktis Geruh adalah mata air tunggal seni tari Gambuh bergaya Badung, Bali Selatan, menyusul meninggalnya I Gede Dunia, pasangan menari Geruh, tahun 1967.

Padahal, tahun itulah Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI, lalu berubah menjadi STSI, dan kini ISI) didirikan di Denpasar, dan lembaga inilah sejak awal dasawarsa 1970-an berkesadaran merekonstruksi tari Gambuh dengan narasumber utama I Gede Geruh. Dari sini Geruh lantas diangkat sebagai dosen luar biasa ASTI Denpasar untuk tari pagambuhan, hingga kelak melahirkan tari Gambuh beriringkan gamelan Semara Pagulingan. Namanya: Gambuh Anyar, dimaksudkan sebagai jembatan awal bagi generasi baru Bali buat memasuki seni tari Gambuh yang sebenarnya rumit dengan musik khas pagambuhan ini.

Maka ketika tahun 1996 sang mahaputra Gambuh Badung itu berpulang karena rajaman sakit uzur, lumpuh, dengan indera penglihatan dan pendengaran mati total, sejatinyalah Bali tak cuma kehilangan satu orang penduduk. Kehilangan Geruh bagi Bali sama saja dengan kehilangan satu mata air bening murni dengan debit tiada terukur besarnya. Ia, bersama I Gede Dunia, dan peniup seruling I Ketut Mertu, sesungguhnya sama dengan kitab ensiklopedi tari yang tidak terhitung ketebalan halaman-halamannya, tidak tereja habis susunan aksara-aksaranya, meskipun saban hari dibaca, dibaca, dan terus dibaca.

Dalam kurun dua hingga setahun sebelum dia berpulang, kami beberapa kali menjumpainya di gubuknya yang ---untuk ukuran saat itu pun--- amat sangat sederhana: reyot, miring ke kiri, atap-atapnya kerap bocor. Di dinding bedeg-nya terselip begitu saja beberapa lembar penghargaan, tanpa bingkai, bahkan ada tanpa tulisan. Lembar-lembar penghargaan ini praktis tidak berarti apa-apa bagi sang mahaputra yang tidak bisa baca-tulis model sekolahan ini, entah aksara Latin maupun aksara Bali. Dia memang tidak sempat mengenyam bangku lembaga pendidikan formal sekolahan, selain latihan menari di bale banjar sejak usia enam tahun dari dua gurunya, penari Gambuh Pedungan: I Nyonggol dan I Totong. Namun, sebagai seniman alam dia memiliki kepekaan lebih, membaca dan mendengar dengan kepekaan dan ketajaman hati.

Di dalam gubuk teronggok dipan dengan tikar pandan lusuh. Bantalnya hanyalah seonggok gelontoran kayu. Di sanalah hari-hari selepas rembang petang Geruh merebahkan raganya yang saban hari kian uzur digerus usia. Manakala matahari telah beranjak meninggi di ufuk timur, dia pun menggeliat, bangun, lalu menuju bale banjar, atau ngorta ngangin kauh di warung di sekitar bale banjar. Hingga satu dasawarsa sebelumnya, bale banjar bagi Geruh adalah kampus-raya sekaligus laboratorium paripurna buat menimba, lalu mengakarkan, membiakkan, dan memekarkan Gambuh Pedungan. Geruh-lah orang yang berjasa gemilang menghidupkan kembali denyut Gambuh Pedungan sejak 1967. Dia tiada letih melatih kaum muda di desanya agar mencintai kembali tari klasik yang berkembang di sana sejak dasawarsa 1930-an itu.

"Bapa hanya punya satu pamerih sepanjang hidup, bagaimana agar Gambuh tidak mati di Pedungan. Kalau itu sudah tercapai, Bapa siap, kapan pun Ida Batara memanggil pulang, mulih ka gumine wayah," tuturnya suatu kali selepas senja, dalam bahasa bali tegas, amat bersungguh-sungguh.

Berserah hidup penuh total-menyeluruh pada tari Gambuh itu memang pilihan tunggal Geruh. Pragina, menjadi penari Gambuh, itulah profesi pertama sekaligus terakhirnya. Tiada lain. Dengan Gambuh-lah Geruh sejatinya beribadah kepada sang Mahasumber Hidup, sesama, juga melakukan ibadah peradaban. Maka menyebut nama Geruh, orang-orang yang mengenalnya pun otomatis akan teringat pada Gambuh, tiada ingatan lain lagi.

Orang teramat jarang menyinggung perihal garis keluarganya, kecuali para murid binaannya dalam seni tari Gambuh. Dia memang tiada ubahnya mata air yang menyembul begitu saja dari dasar perut bumi dengan segenap kebening-jernihannya yang tulus, murni. Maka begitu melihat mata air itu, orang pun sontak spontan ingin mereguk sepuas-puasnya, sedalam-dalamnya, buat menghilangkan rasa dahaga masing-masing. Mata air itu pun tiada letih mengalirkan kesejuk-beningan kepada setiap orang yang datang mereguk, menimbanya, entah orang sekitar, orang lokal, maupun orang asing dari negeri yang tiada pernah dia pedulikan.

Saban kali orang datang bertanya padanya, menimba ilmu darinya, Geruh tiada pernah menolak, memang. Dia senantiasa berbinar girang manakala ada mengajaknya berbincang perihal Gambuh, memintanya memperagakan penggalan-penggalan agem Gambuh berwatak keras yang amat digemarinya. Dia pun menggerak-gerakkan tangan, badan, kaki, juga kepalanya dengan amat bertenaga. Hentakan napasnya kukuh, terukur. Warna suaranya berat, penuh wibawa, melantunkan nyanyian pagambuhan, melontarkan dialog-dialog dalam bahasa Jawa Kuna, tegas dan jelas. Saat begitu seakan dia lupa, betapa tubuh ragawinya sesungguhnya telah renta, lebih tua tinimbang Gambuh Pedungan. "Bayune cara sedeng gedena," dia membayangkan jiwa dan tenaganya yang senantiasa muda. Dalam dirinya roh Gambuh gaya Badung tiada henti bedenyut, memang. Hingga hari-hari menjelang berpulang pun dia masih sanggup memberikan penjelasan perihal Gambuh kepada para peneliti yang tiada henti berdatangan.

Boleh jadi karena daya debit air yang dialirkan Geruh sebagai mata air begitu kuat, besar, orang lantas tiada merasa khawatir: suatu saat kelak, sang mata air bakal berhenti berdenyut, karena sang Ibu Semesta yang menyembulkannya ingin segera mendekapnya kembali ke rahim kalbu terdalam. Entah berapa banyak orang, pihak, maupun lembaga benar-benar peduli dan merasa kehilangan mata air sang mahaputra itu, kini. Padahal, dengan mendalami Gambuh, Geruh sesungguhnyalah telah mengajak anak-anak Bali zaman sesudahnya agar pulang kembali ke dasar, ke akar muasal segenap tarian. Itulah gambuh: gerak tarian kosmis Ibu Alam Semestaraya.
I Made Prabaswara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar