PURWA WACANA

Om Swastiastu,

Desa Pakraman Pedungan memiliki pengurus yang telah di pilih pada Sabtu, 26 Maret 2011 Dengan susunan pengurus sebagai berikut: Bendesa : Drs. I Nyoman Sumantra; Penyarikan: I Nyoman Subaga; Patengen : Drs. I Gusti Putu Loka, Patajuh Parhyangan : I Nyoman Jiwa Pande, S.Sos; Patajuh Pawongan : I Made Badra; Patajuh Palemahan : Ir. I Ketut Adhimastra, M.Erg; Kasinoman: I Made Suardana, SE

Om Santhi, santhi, santhi Om


Jumat, 05 Februari 2010

DENPASAR GO CLEAN AND GREEN


Denpasar (Denpasarkota.go.id), Guna mewujudkan Denpasar yang Bersih dan Hijau (Clean And Green) ribuan batang pohon dari berbagai jenis kemarin disebar keseluruh Kecamatan di Kota Denpasar. Bak gayung bersambut masyarakat pun menindaklanjuti dengan melakukan penanaman serentak dimasing-masing lingkungannnya. Seperti yang dilakukan masyarakat Kelurahan Pedungan, ribuan masyarakat dari berbagai komponen tumpah ruah turun ke jalan melakukan penanaman pohon yang dimulai dari Br. Pande hingga Br. Karangsuwung Minggu (31/1)

Wakil Walikota Denpasar I G N Jaya Negara yang hadir dalam kesempatan tersebut didampingi Ketua Komisi C DPRD Kota Agus Arya Wibawa, Camat, Kades/Lurah dan Tokoh-Tokoh masyarakat setempat sebelum melakukan penanaman berkesempatan menyerahkan bantuan berupa gerobak sampah kepada masyarakat Kelurahan Pedungan. Usai menyerahkan bantuan Wakil Walikota juga menyempatkan diri meninjau pengobatan kesehatan gratis yang digelar di halaman banjar. Selanjutnya Wawali bergegas menuju areal tempat dilakukannya penanaman pohon yaitu disekitar bahu-bahu jalan. Menurut Jaya Negara ribuan pohon yang sudah disebar keseluruh Kecamatan mudah-mudahan mampu membuat hijau dan meperindang Kota Denpasar. Dia juga berharap agar masyarakat ikut pula memantau dan menjaga pohon-pohon yang sudah ditanam ini dengan baik seperti membuatkan stager agar tanaman tidak rebah, menyiram dan lain sebagainya. Untuk menjaga keindahan dan hijaunya Kota Jaya Negara juga mengingatkan hendaknya masyarakat jangan sembarangan melakukan penebangan pohon, jikapun terpaksa dilakukan agar berkoordinasi terlebih dahulu dengan Dinas Kebersihan Dan Pertamanan Kota Denpasar (DKP). Jika ini sudah dilakukan niscaya untuk mewujudkan Denpasar yang indah, rindang, hijau dan besih pasti segera akan terwujud. ”Menjaga kebersihan lingkungan amat penting artinya bagi masa depan anak cucu kita”, ujarnya. Sebab dengan lingkungan yang bersih sudah pasti akan mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat itu sendiri, dampaknya mereka jadi jarang sakit karena terhindar dari wabah penyakit dan sebagainya. Untuk itu ”Mari tingkatkan kepedulian dan kecintaan kita terhadap lingkungan”, himbaunya.

Sementara I Nyoman Lodra Lurah Pedungan ketika ditemuai usai melakukan penanaman mengatakan salut dan terimakasih kepada Pemerintah Kota Denpasar yang telah membantu memberikan gerobak sampah dan ribuan tanaman penghijauan. Mudah-mudahan dengan adanya bantuan ini masyarakat kami akan semakin peduli dan lingkungan Kelurahan Pedungan akan semakin rindang dan hijau, ujarnya. (Sdn)
Sumber berita: klik disini

Senin, 01 Februari 2010

LPD Penyangga Utama Perekonomian ''Krama''

DARI sejumlah aset yang dimiliki Desa Pakraman Pedungan, keberadaan Lembaga Perkreditan Desa (LPD) memegang peranan sentral dalam menyangga perekonomian krama Pedungan. Melalui pinjaman lembaga perkreditan ini, krama Pedungan bisa merencanakan masa depannya dengan jalan merintis usaha ekonomi produktif.

"Kredit yang kami kucurkan memang diprioritaskan untuk mendukung usaha krama asli Pedungan," kata Ketua LPD Pedungan I Made Suardana, S.E. kepada Bali Post, Kamis (3/4) lalu.

Menurut Suardana, LPD Pedungan termasuk LPD yang cukup sehat. Tahun 2007 lalu, keuntungan LPD ini mencapai Rp 1 milyar. Tercatat 20 persen dari keuntungan itu disisihkan untuk mendanai kegiatan pembangunan di wilayah Desa Pakraman Pedungan. Sedangkan 5 persen keuntungan lagi dipergunakan untuk dana sosial.

"Secara aktif, kami mendistribusikan kredit untuk mendukung usaha produktif yang dilakukan oleh krama Pedungan. Di luar itu, kami juga mampu menyisihkan dana untuk mendukung kegiatan pembangunan di Pedungan,'' katanya sambil menambahkan, sebagian besar keuntungan LPD itu dikelola kembali untuk memperkuat permodalan LPD.

Berbekal kontribusi yang disisihkan dari keuntungan LPD, katanya, Desa Pakraman Pedungan bisa membebaskan krama dari kewajiban membayar urunan untuk perawatan dan perbaikan kahyangan tiga maupun pembangunan fasilitas lainnya. Ini berarti, keberadaan LPD terbukti mampu meringankan beban yang harus dipikul krama. "Manfaat LPD itu sudah dirasakan oleh krama di sini. Selain meringankan beban mereka terkait kewajiban merawat dan memperbaiki parahyangan, krama juga cukup terbantu dalam hal modal usaha," katanya lagi.

Pernyataan Suardana dibenarkan oleh Petajuh Parahyangan Desa Pakraman Pedungan I Nyoman Jiwa Pande. Sampai saat ini, biaya aci piodalan di kahyangan tiga sepenuhnya diambilkan dari kas desa pakraman yang notabene bersumber dari keuntungan LPD. "Keberadaan LPD ini sangat mendukung pembiayaan upacara ritual di Pedungan," katanya.

Menurut Jiwa Pande, Desa Pakraman Pedungan memiliki kahyangan tiga yang komplet, yakni Pura Desa/Bale Agung yang di-empon 14 banjar pakraman, Pura Puseh (13 banjar pakraman) dan Pura Dalem (4 banjar pakraman). Khusus untuk Pura Dalem dan Pura Puseh, memang tidak di-empon seluruh banjar pakraman karena di wawengkon banjar pakraman mereka sudah didirikan pura sejenis. Di luar kahyangan tiga itu, Desa Pakraman Pedungan juga punya kewajiban ngempon sejumlah pura besar lainnya seperti Pura Sarin Peken, Pura Merajapati, Pura Taman, Pura Telaga Waja dan Pura Saren Agung. "Sampai saat ini, biaya aci piodalan di Pura-pura itu memang diambilkan dari kas desa pakraman yang bersumber dari keuntungan LPD," ujarnya. (ian)

Senin, 7 April 2008

Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/7/bd1.htm

Desa Pakraman Pedungan Limbah Garmen Menyurut, Sampah Rumah Tangga ''Menyerbu''

KETIKA industri garmen, sablon dan pencelupan meraih puncak kejayaan di era 1990-an lalu, wawengkon Desa Pakraman Pedungan dikenal sebagai sentra industri penghasil limbah yang sarat dengan kandungan logam berat berbahaya tersebut. Paling tidak, lima dari 14 banjar di Desa Pakraman Pedungan yakni Banjar Pitik, Banjar Sawah, Banjar Geladag, Banjar Dukuh Pesirahan dan Banjar Begawan sempat "disesaki" industri yang mengalami booming bersamaan dengan masa jaya kepariwisataan Bali itu. Bagi pengusaha, kelima banjar itu dinilai sangat strategis untuk mendukung aktivitas usahanya lantaran dibelah oleh aliran anakan Tukad Badung. Pertimbangan yang sangat praktis, mengingat mereka tidak perlu jauh-jauh mencari tempat untuk mencuci lembaran kain pascadicelup termasuk membuang limbah sisa aktivitas pencelupan.
===========================================================
Posisi yang strategis itu justru melahirkan penderitaan panjang bagi krama di desa pakraman yang didukung 2.192 kepala keluarga (KK) itu. Saat itu bukan pemandangan aneh jika aliran anakan Tukad Badung di sekitar Pedungan senantiasa semarak warna. Terkadang berwarna merah, kuning, hijau, biru hingga hitam pekat serta berbagai variasi warna lainnya. Tergantung dari warna bahan pencelup yang digelontor ke dalamnya. Pedungan tercemar berat.
Sementara itu, krama setempat harus menanggung derita akibat perilaku tidak ramah lingkungan para pengusaha yang mengejar keuntungan materi semata. Ketika gemerlap kepariwisataan Bali mulai memudar akibat ledakan dua kali bom yang datang beruntun, aktivitas industri yang sangat potensial memporak-porandakan kesehatan lingkungan jika salah kelola itu pun menyurut.
Satu per satu industri garmen, sablon dan pencelupan di Pedungan "beku" operasi.
Tetapi, penderitaan krama Pedungan belum berakhir. Begitu limbah industri yang sarat dengan kandungan logam berat itu menyurut, krama kembali dipusingkan dengan "serbuan" sampah rumah tangga yang menyesaki badan sungai. Sampah rumah tangga itu diyakini bukan murni "produk" krama Pedungan, tetapi sebagian besar merupakan "sampah kiriman" yang datang dari daerah hulu. Posisi Pedungan yang berada di daerah hilir, tampaknya menjadikan desa pakraman berpenduduk 12.242 jiwa ini tidak bisa "steril" dari permasalahan limbah.
Permasalahan Serius
Ditemui Bali Post, Kamis (3/4) lalu, Bendesa Pakraman Pedungan I Nyoman Sumantra didampingi Penyarikan I Gusti Putu Loka, Petajuh Parahyangan I Nyoman Jiwa Pande dan Klian Banjar Pitik I Wayan Manggis mengakui bahwa permasalahan limbah merupakan permasalahan serius di wilayahnya. Meskipun jumlah industri garmen, sablon dan pencelupan menurun drastis dibandingkan di era 1990-an, pencemaran dari sektor ini masih kerap kali terjadi. Tetapi, pihaknya tidak berani memvonis bahwa pembuangan limbah itu dilakukan oleh pengelola usaha yang berlokasi di wilayahnya. Alasannya, di daerah hulu Pedungan juga masih banyak beroperasi usaha sejenis. Jika pengusaha di daerah hulu tetap membuang limbah, tentu saja limbah itu akan tetap sampai ke Pedungan terbawa aliran sungai. "Memang tidak cukup bukti untuk memvonis pengusaha di sini yang membuang limbah berbahaya itu. Terkecuali jika mereka memang tertangkap tangan saat membuang limbah itu ke sungai," kata Sumantra yang dibenarkan oleh prajuru-prajuru lainnya.
Dia menambahkan, pencemaran akibat limbah industri garmen, sablon dan pencelupan itu memang telah menciptakan mimpi buruk bagi krama Pedungan yang bermukim di pinggiran daerah aliran sungai. Meskipun puncak pembuangan limbah itu terjadi beberapa tahun silam, dampak negatif yang diakibatkannya masih dirasakan krama hingga saat ini. Sumur-sumur warga tidak bisa lagi diandalkan sebagai pemasok kebutuhan air minum, mandi, cuci dan kakus (MCK) karena sudah tercemar logam berat. Nasib mengenaskan juga harus ditanggung para petani Pedungan yang menggantungkan sumber penghidupan dari bertanam padi.
Ketika limbah sablon "menjamah" areal pertanian, tanaman padi yang ditanam petani mulai enggan menyemaikan bulir-bulir padi yang bernas. Produksi padi anjlok ke level terendah. Tidak hanya itu, para petani yang terpaksa mengairi sawahnya dengan air dari irigasi yang tercemar limbah sablon itu mendadak mengeluhkan gatal-gatal di sekujur tubuhnya. "Sumur-sumur di sini sudah tercemar. Petani pun enggan bertani lantaran hasil panen tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan," keluhnya.
Pendapat senada juga dilontarkan Klian Banjar Pitik I Wayan Manggis. Pada awal kemunculannya, kata dia, krama Pedungan belum begitu ngeh dengan dampak negatif yang mengiringi operasional industri sablon itu. Sejumlah krama tanpa pikir panjang mau mengontrakkan tanah yang mereka nilai tidak produktif kepada para pengusaha sablon yang sebagian besar merupakan penduduk pendatang. Ketika limbah berbahaya itu mulai menebar ancaman serius bagi kesehatan, mereka baru terperangah.
"Saking jengkelnya, beberapa tahun lalu warga di sini sempat ramai-ramai turun ke sungai dan menutup saluran pembuangan limbah sejumlah pengusaha yang dialirkan ke sungai. Setelah kejadian itu, pengawasan dari instansi terkait di Pemkot Denpasar makin diintensifkan. Sidak-sidak yang menyasar industri garmen, sablon dan pencelupan makin sering digelar," katanya.
Masih Kucing-kucingan
Pengawasan intensif itu, katanya, memang membuahkan hasil. Paling tidak, aktivitas pembuangan limbah secara langsung ke sungai berhasil ditekan. Namun, dia mengakui masih ada juga sejumlah pengusaha yang secara kucing-kucingan membuang limbahnya ke sungai tanpa dinetralkan terlebih dahulu di instalasi pengolahan air limbah (IPAL). "Ada juga pengusaha yang bandel. Mereka membuang limbah berbahaya itu malam hari ketika krama di sini tertidur pulas. Keesokan harinya kami sudah mendapati air sungai penuh warna tanpa tahu dari mana sumbernya. Masih ada yang kucing-kucingan," katanya dengan nada geram.
Sumantra dan Manggis mengakui pencemaran limbah industri garmen, sablon dan pencelupan memang tidak sedahsyat ketika industri itu berada di puncak kejayaannya. Selain jumlah industri itu menurun drastis lantaran sepi orderan, boleh jadi kesadaran pengusaha untuk membangun IPAL makin baik seiring intensifnya pembinaan dan sidak-sidak yang digelar instansi terkait di Pemkot Denpasar.
"Kami berharap pengusaha yang saat ini belum memiliki IPAL secepatnya membangun fasilitas tersebut. Kami tidak pernah melarang orang berusaha, tetapi taati juga ketentuan yang dipersyaratkan sehingga para pengusaha bisa berusaha dengan tenang," kata Sumantra penuh harap.
Penyarikan I Gusti Putu Loka menambahkan, saat ini krama Pedungan juga pusing memikirkan sampah rumah tangga yang menyumbat aliran sungai. Ironisnya lagi, pihaknya tidak tahu pasti dari mana sumber sampah itu sehingga sulit melakukan pembinaan maupun pengawasan. Tahu-tahu, sampah itu sudah berserakan di badan sungai. Padahal, pihak desa pakraman maupun Dinas Lingkungan Hidup Kota Denpasar sudah memasang papan-papan larangan di sejumlah lokasi strategis di mana sampah rumah tangga ditemukan menumpuk.
"Kalau yang membuang sampah itu hanya warga di sini, rasanya tumpukan sampah itu tidak sebanyak itu. Kami menduga, sebagian besar dari tumpukan sampah itu merupakan sampah kiriman yang hanyut terbawa aliran sungai dan kampih (terdampar-red) di Pedungan," katanya.
Keluhan senada juga dilontarkan I Wayan Manggis. Ditegaskan, sangat sulit menuding siapa yang sejatinya bertanggung jawab atas tumpukan sampah itu. Yang jelas, krama Pedungan merasa sangat dirugikan karena wilayahnya menjadi jorok dan berbau tidak sedap. "Untuk bisa mengetahui di mana sejatinya sumber sampah itu, saya berharap instansi terkait di Pemkot Denpasar memasang jaring-jaring penahan sampah di setiap perbatasan desa. Di daerah mana sampah itu menumpuk paling banyak, maka bisa dipastikan di sanalah sebenarnya pusat dari permasalahan itu. Tanpa jaring penahan sampah itu, Pedungan akan selamanya menjadi keranjang sampah karena berlokasi di daerah hilir. Lagi-lagi krama di sini yang paling dirugikan," ujarnya. * w. sumatika
Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/7/bd3.htm

Kamis, 10 Desember 2009

CARU SASIH KE- 6 DI DESA PEDUNGAN




























Catatan Foto (dari atas ke bawah - dari kanan ke kiri):
1. Foto Pemangku (Kak Toko) menghaturkan tawur disore hari di pertigaan desa;
2. Foto Mangku Sarin Peken menghaturkan sesajen untuk mengawali tabuh-rah;
3 dan 4 Foto pada saat Unen-unen Ida Betara tedun ke pertigaan Desa Pedungan, di malam harinya

Pada hari S
elasa atau Anggara kasih wuku Tambir yang jatuh pada tanggal 8 Desember 2009, Ida dane krama desa Pakraman Pedungan melaksanakan upacara Pecaruan di pertigaan desa (disebut juga sebagai perempat agung desa). Sesuai dengan hasil rapat para Prajuru Banjar serta Prajuru Desa Pakraman Pedungan diawal tahun 2009, telah disepakati untuk melaksanakan tawur (Caru) sasih ke - 6 pada tanggal 8 Desember 2009. Tindaklanjut dari rencana tawur sasih ke - 6 ini kepada masing-masing banjar disarankan agar mengumumkan kepada masing-masing warga banjarnya untuk nancebang sanggah cucuk (memasang sanggah cucuk) didepan rumahnya pada hari Anggara Kasih wuku Tambir ini, selanjutnya pada sore harinya masing-masing warga banjar nunas tirta tawur ke banjar (sebelumnya pihak prajuru banjar nunas tirtta terlebih dahulu ke desa). Makna umum daripada CARU yang tergolong upacara Butha Yajña, adalah: Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan, untuk mewujudkan Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita).

"Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani."

Artinya:

Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk.

"Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mâng dharma, artha kama moksha."

Artinya:

Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha.

Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb:

"Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan."

Dalam Bhagavadgita III, 14 disebutkan, karena makanan, makhluk hidup menjelma, karena hujan tumbuhlah makanan, karena persembahan (yajña) turunlah hujan, dan yajña lahir karena kerja.

Dalam kenyataannya, kita bisa melihat sendiri, binatang hidup dari tumbuh-tumbuhan, manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Dengan demikian jelaslah, tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup, yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. Petikan artikel di atas menekankan pada makna umum daripada CARU, sedangkan untuk Caru yang dikaitkan dengan caru pada saat sasih ke - 6 memiliki makna tertentu, apalagi di desa Pakraman Pedungan ada beberapa jenis pelaksanaan pecaruan seperti:
  1. Caru pada sasih ke - 6 yang dilaksanakan di peteluan desa
  2. Caru pada sasih ke - ... yang dilaksanakan di tepisiring desa pakraman Pedungan
  3. Caru pada masing perempatan atau pertigaan banjar di lingkungan desa pakraman Pedungan
Keunikan masyarakat pakraman Pedungan dalam hal melaksanakan pecaruan memang membutuhkan pemahaman lebih lanjut agar umat atau masyarakat tidak sekedar melaksanakan upacara namun tidak memahami makna yang terkandung dibalik tujuan luhurnya.

BUDA CEMENG MERAKIH PUJAWALI DI PURA PENATARAN PESANGGARAN



Kegiatan rutin Desa Pakraman Pedungan di tahun 2009 ini salah satunya adalah mengiringi Unen-unen Ida Betara Dalem Lunga ke pura Penataran Pesanggaran yang jatuh pada dina Rabu 2 Desember 2009, yang mendapat tugas nyanggra atau menyelenggarakan kegiatan ini adalah Krama Banjar Kepisah, Pengemong, Pemangku, Pemaksan Pura Dalem Pakerisan, Prajuru Banjar lan Prajuru Desa sebagaimana telah tertuang dalam jadwal kegiatan rutin Desa Pakraman Pedungan. Menurut keterangan Bapak Nyoman Jiwa (salah satu keluarga pengemong Pura Penataran Pesanggaran) Pura Penataran ini memang di emong oleh keluarganya dan mulai menjadi parhyangan yang disiwi oleh masyarakat umum semenjak pembangunan pelabuhan Benoa, ini berarti sewaktu jaman penjajahan Jepang. Konon pada saat mulainya pembangunan pelabuhan Benoa itu, ada beberapa pekerja pembangunan pelabuhan itu meninggal yang kemudian ditanam (dikubur) didekat sekitar pura ini tepatnya sebelah selatan Pura Penataran. Disamping ada yang mati ada pula yang mengalami bencana (baik itu karena sakit atau karena kecelakaan), beberapa orang pekerja yang sakit itu ada yang nunas atau memohon keselamatan di pura ini. Mungkin karena merasa permohonannya terkabulkan dan merasa mendapatkan keselamatan dan kesehatan dari pura ini, maka mereka meneruskan rasa baktinya ke pura penataran ini dengan menghaturkan banten atau setidaknya cukup canang sari guna memperoleh keselamatan serta kesehatan. Sejak itu, pura Penataran ini jadi lebih sering di kunjungi oleh para pemedek yang mengharapkan keselamatan dalam bekerja di sekitar Pelabuhan Benoa ini. Selanjutnya ada beberapa unen-unen juga selain Unen-unen Ida Betara Pura Dalem Pakerisan yang lunga ke Pura Penataran ini seperti unen-unen: Banjar Pesanggaran, Banjar Ambengan maupun banjar Gaduh Desa Sesetan. Dalam kesempatan ini pula Bendesa Desa Pakraman Pedungan menyampaikan hal-ihwal mengapa unen-unen Ida Betara Pura Dalem Pakerisan lunga kesini, ini terjadi lantaran bahan mentah (kayu) untuk pembuatan tapel atau prerai unen-unen di Pura Dalem Pakerisan diperoleh dari pohon yang tumbuh di Pura Penataran Pesanggaran ini, sehingga untuk selanjutnya pada saat Pujawali di Pura Penataran ini maka unen-unen Ida Betara Pura Dalem Pakerisan lunga juga sebagaimana halnya pujawali hari ini.