Senin, 01 Februari 2010
Desa Pakraman Pedungan Limbah Garmen Menyurut, Sampah Rumah Tangga ''Menyerbu''
===========================================================
Posisi yang strategis itu justru melahirkan penderitaan panjang bagi krama di desa pakraman yang didukung 2.192 kepala keluarga (KK) itu. Saat itu bukan pemandangan aneh jika aliran anakan Tukad Badung di sekitar Pedungan senantiasa semarak warna. Terkadang berwarna merah, kuning, hijau, biru hingga hitam pekat serta berbagai variasi warna lainnya. Tergantung dari warna bahan pencelup yang digelontor ke dalamnya. Pedungan tercemar berat.
Sementara itu, krama setempat harus menanggung derita akibat perilaku tidak ramah lingkungan para pengusaha yang mengejar keuntungan materi semata. Ketika gemerlap kepariwisataan Bali mulai memudar akibat ledakan dua kali bom yang datang beruntun, aktivitas industri yang sangat potensial memporak-porandakan kesehatan lingkungan jika salah kelola itu pun menyurut.
Satu per satu industri garmen, sablon dan pencelupan di Pedungan "beku" operasi.
Tetapi, penderitaan krama Pedungan belum berakhir. Begitu limbah industri yang sarat dengan kandungan logam berat itu menyurut, krama kembali dipusingkan dengan "serbuan" sampah rumah tangga yang menyesaki badan sungai. Sampah rumah tangga itu diyakini bukan murni "produk" krama Pedungan, tetapi sebagian besar merupakan "sampah kiriman" yang datang dari daerah hulu. Posisi Pedungan yang berada di daerah hilir, tampaknya menjadikan desa pakraman berpenduduk 12.242 jiwa ini tidak bisa "steril" dari permasalahan limbah.
Permasalahan Serius
Ditemui Bali Post, Kamis (3/4) lalu, Bendesa Pakraman Pedungan I Nyoman Sumantra didampingi Penyarikan I Gusti Putu Loka, Petajuh Parahyangan I Nyoman Jiwa Pande dan Klian Banjar Pitik I Wayan Manggis mengakui bahwa permasalahan limbah merupakan permasalahan serius di wilayahnya. Meskipun jumlah industri garmen, sablon dan pencelupan menurun drastis dibandingkan di era 1990-an, pencemaran dari sektor ini masih kerap kali terjadi. Tetapi, pihaknya tidak berani memvonis bahwa pembuangan limbah itu dilakukan oleh pengelola usaha yang berlokasi di wilayahnya. Alasannya, di daerah hulu Pedungan juga masih banyak beroperasi usaha sejenis. Jika pengusaha di daerah hulu tetap membuang limbah, tentu saja limbah itu akan tetap sampai ke Pedungan terbawa aliran sungai. "Memang tidak cukup bukti untuk memvonis pengusaha di sini yang membuang limbah berbahaya itu. Terkecuali jika mereka memang tertangkap tangan saat membuang limbah itu ke sungai," kata Sumantra yang dibenarkan oleh prajuru-prajuru lainnya.
Dia menambahkan, pencemaran akibat limbah industri garmen, sablon dan pencelupan itu memang telah menciptakan mimpi buruk bagi krama Pedungan yang bermukim di pinggiran daerah aliran sungai. Meskipun puncak pembuangan limbah itu terjadi beberapa tahun silam, dampak negatif yang diakibatkannya masih dirasakan krama hingga saat ini. Sumur-sumur warga tidak bisa lagi diandalkan sebagai pemasok kebutuhan air minum, mandi, cuci dan kakus (MCK) karena sudah tercemar logam berat. Nasib mengenaskan juga harus ditanggung para petani Pedungan yang menggantungkan sumber penghidupan dari bertanam padi.
Ketika limbah sablon "menjamah" areal pertanian, tanaman padi yang ditanam petani mulai enggan menyemaikan bulir-bulir padi yang bernas. Produksi padi anjlok ke level terendah. Tidak hanya itu, para petani yang terpaksa mengairi sawahnya dengan air dari irigasi yang tercemar limbah sablon itu mendadak mengeluhkan gatal-gatal di sekujur tubuhnya. "Sumur-sumur di sini sudah tercemar. Petani pun enggan bertani lantaran hasil panen tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan," keluhnya.
Pendapat senada juga dilontarkan Klian Banjar Pitik I Wayan Manggis. Pada awal kemunculannya, kata dia, krama Pedungan belum begitu ngeh dengan dampak negatif yang mengiringi operasional industri sablon itu. Sejumlah krama tanpa pikir panjang mau mengontrakkan tanah yang mereka nilai tidak produktif kepada para pengusaha sablon yang sebagian besar merupakan penduduk pendatang. Ketika limbah berbahaya itu mulai menebar ancaman serius bagi kesehatan, mereka baru terperangah.
"Saking jengkelnya, beberapa tahun lalu warga di sini sempat ramai-ramai turun ke sungai dan menutup saluran pembuangan limbah sejumlah pengusaha yang dialirkan ke sungai. Setelah kejadian itu, pengawasan dari instansi terkait di Pemkot Denpasar makin diintensifkan. Sidak-sidak yang menyasar industri garmen, sablon dan pencelupan makin sering digelar," katanya.
Masih Kucing-kucingan
Pengawasan intensif itu, katanya, memang membuahkan hasil. Paling tidak, aktivitas pembuangan limbah secara langsung ke sungai berhasil ditekan. Namun, dia mengakui masih ada juga sejumlah pengusaha yang secara kucing-kucingan membuang limbahnya ke sungai tanpa dinetralkan terlebih dahulu di instalasi pengolahan air limbah (IPAL). "Ada juga pengusaha yang bandel. Mereka membuang limbah berbahaya itu malam hari ketika krama di sini tertidur pulas. Keesokan harinya kami sudah mendapati air sungai penuh warna tanpa tahu dari mana sumbernya. Masih ada yang kucing-kucingan," katanya dengan nada geram.
Sumantra dan Manggis mengakui pencemaran limbah industri garmen, sablon dan pencelupan memang tidak sedahsyat ketika industri itu berada di puncak kejayaannya. Selain jumlah industri itu menurun drastis lantaran sepi orderan, boleh jadi kesadaran pengusaha untuk membangun IPAL makin baik seiring intensifnya pembinaan dan sidak-sidak yang digelar instansi terkait di Pemkot Denpasar.
"Kami berharap pengusaha yang saat ini belum memiliki IPAL secepatnya membangun fasilitas tersebut. Kami tidak pernah melarang orang berusaha, tetapi taati juga ketentuan yang dipersyaratkan sehingga para pengusaha bisa berusaha dengan tenang," kata Sumantra penuh harap.
Penyarikan I Gusti Putu Loka menambahkan, saat ini krama Pedungan juga pusing memikirkan sampah rumah tangga yang menyumbat aliran sungai. Ironisnya lagi, pihaknya tidak tahu pasti dari mana sumber sampah itu sehingga sulit melakukan pembinaan maupun pengawasan. Tahu-tahu, sampah itu sudah berserakan di badan sungai. Padahal, pihak desa pakraman maupun Dinas Lingkungan Hidup Kota Denpasar sudah memasang papan-papan larangan di sejumlah lokasi strategis di mana sampah rumah tangga ditemukan menumpuk.
"Kalau yang membuang sampah itu hanya warga di sini, rasanya tumpukan sampah itu tidak sebanyak itu. Kami menduga, sebagian besar dari tumpukan sampah itu merupakan sampah kiriman yang hanyut terbawa aliran sungai dan kampih (terdampar-red) di Pedungan," katanya.
Keluhan senada juga dilontarkan I Wayan Manggis. Ditegaskan, sangat sulit menuding siapa yang sejatinya bertanggung jawab atas tumpukan sampah itu. Yang jelas, krama Pedungan merasa sangat dirugikan karena wilayahnya menjadi jorok dan berbau tidak sedap. "Untuk bisa mengetahui di mana sejatinya sumber sampah itu, saya berharap instansi terkait di Pemkot Denpasar memasang jaring-jaring penahan sampah di setiap perbatasan desa. Di daerah mana sampah itu menumpuk paling banyak, maka bisa dipastikan di sanalah sebenarnya pusat dari permasalahan itu. Tanpa jaring penahan sampah itu, Pedungan akan selamanya menjadi keranjang sampah karena berlokasi di daerah hilir. Lagi-lagi krama di sini yang paling dirugikan," ujarnya. * w. sumatika
Sumber: http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2008/4/7/bd3.htm
Kamis, 10 Desember 2009
CARU SASIH KE- 6 DI DESA PEDUNGAN




Catatan Foto (dari atas ke bawah - dari kanan ke kiri):
1. Foto Pemangku (Kak Toko) menghaturkan tawur disore hari di pertigaan desa;
2. Foto Mangku Sarin Peken menghaturkan sesajen untuk mengawali tabuh-rah;
3 dan 4 Foto pada saat Unen-unen Ida Betara tedun ke pertigaan Desa Pedungan, di malam harinya
Pada hari Selasa atau Anggara kasih wuku Tambir yang jatuh pada tanggal 8 Desember 2009, Ida dane krama desa Pakraman Pedungan melaksanakan upacara Pecaruan di pertigaan desa (disebut juga sebagai perempat agung desa). Sesuai dengan hasil rapat para Prajuru Banjar serta Prajuru Desa Pakraman Pedungan diawal tahun 2009, telah disepakati untuk melaksanakan tawur (Caru) sasih ke - 6 pada tanggal 8 Desember 2009. Tindaklanjut dari rencana tawur sasih ke - 6 ini kepada masing-masing banjar disarankan agar mengumumkan kepada masing-masing warga banjarnya untuk nancebang sanggah cucuk (memasang sanggah cucuk) didepan rumahnya pada hari Anggara Kasih wuku Tambir ini, selanjutnya pada sore harinya masing-masing warga banjar nunas tirta tawur ke banjar (sebelumnya pihak prajuru banjar nunas tirtta terlebih dahulu ke desa). Makna umum daripada CARU yang tergolong upacara Butha Yajña, adalah: Yajña ini dilangsungkan manusia dengan tujuan membuat kesejahteraan alam lingkungan. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan, untuk mewujudkan Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita).
"Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan mâsih ring sarwa prani."
Artinya:
Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk.
"Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mâng dharma, artha kama moksha."
Artinya:
Karena kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha.
Di dalam Agastya Parwa ada disebutkan tentang rumusan Panca Yajña dan di antaranya dijelaskan pula tujuan Butha Yajña sbb:
"Butha Yajña namanya tawur dan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan."
Dalam Bhagavadgita III, 14 disebutkan, karena makanan, makhluk hidup menjelma, karena hujan tumbuhlah makanan, karena persembahan (yajña) turunlah hujan, dan yajña lahir karena kerja.
Dalam kenyataannya, kita bisa melihat sendiri, binatang hidup dari tumbuh-tumbuhan, manusia mendapatkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan binatang. Dengan demikian jelaslah, tujuan Butha Yajña melestarikan lingkungan hidup, yaitu Panca Maha Butha dan sarwaprani. Petikan artikel di atas menekankan pada makna umum daripada CARU, sedangkan untuk Caru yang dikaitkan dengan caru pada saat sasih ke - 6 memiliki makna tertentu, apalagi di desa Pakraman Pedungan ada beberapa jenis pelaksanaan pecaruan seperti:- Caru pada sasih ke - 6 yang dilaksanakan di peteluan desa
- Caru pada sasih ke - ... yang dilaksanakan di tepisiring desa pakraman Pedungan
- Caru pada masing perempatan atau pertigaan banjar di lingkungan desa pakraman Pedungan
BUDA CEMENG MERAKIH PUJAWALI DI PURA PENATARAN PESANGGARAN

Kegiatan rutin Desa Pakraman Pedungan di tahun 2009 ini salah satunya adalah mengiringi Unen-unen Ida Betara Dalem Lunga ke pura Penataran Pesanggaran yang jatuh pada dina Rabu 2 Desember 2009, yang mendapat tugas nyanggra atau menyelenggarakan kegiatan ini adalah Krama Banjar Kepisah, Pengemong, Pemangku, Pemaksan Pura Dalem Pakerisan, Prajuru Banjar lan Prajuru Desa sebagaimana telah tertuang dalam jadwal kegiatan rutin Desa Pakraman Pedungan. Menurut keterangan Bapak Nyoman Jiwa (salah satu keluarga pengemong Pura Penataran Pesanggaran) Pura Penataran ini memang di emong oleh keluarganya dan mulai menjadi parhyangan yang disiwi oleh masyarakat umum semenjak pembangunan pelabuhan Benoa, ini berarti sewaktu jama
n penjajahan Jepang. Konon pada saat mulainya pembangunan pelabuhan Benoa itu, ada beberapa pekerja pembangunan pelabuhan itu meninggal yang kemudian ditanam (dikubur) didekat sekitar pura ini tepatnya sebelah selatan Pura Penataran. Disamping ada yang mati ada pula yang mengalami bencana (baik itu karena sakit atau karena kecelakaan), beberapa orang pekerja yang sakit itu ada yang nunas atau memohon keselamatan di pura ini. Mungkin karena merasa permohonannya terkabulkan dan merasa mendapatkan keselamatan dan kesehatan dari pura ini, maka mereka meneruskan rasa baktinya ke pura penataran ini dengan menghaturkan banten atau setidaknya cukup canang sari guna memperoleh keselamatan serta kesehatan. Sejak itu, pura Penataran ini jadi lebih sering di kunjungi oleh para pemedek yang mengharapkan keselamatan dalam bekerja di sekitar Pelabuhan Benoa ini. Selanjutnya ada beberapa unen-unen juga selain Unen-unen Ida Betara Pura Dalem Pakerisan yang lunga ke Pura Penataran ini seperti un
en-unen: Banjar Pesanggaran, Banjar Ambengan maupun banjar Gaduh Desa Sesetan. Dalam kesempatan ini pula Bendesa Desa Pakraman Pedungan menyampaikan hal-ihwal mengapa unen-unen Ida Betara Pura Dalem Pakerisan lunga kesini, ini terjadi lantaran bahan mentah (kayu) untuk pembuatan tapel atau prerai unen-unen di Pura Dalem Pakerisan diperoleh dari pohon yang tumbuh di Pura Penataran Pesanggaran ini, sehingga untuk selanjutnya pada saat Pujawali di Pura Penataran ini maka unen-unen Ida Betara Pura Dalem Pakerisan lunga juga sebagaimana halnya pujawali hari ini.
Minggu, 06 Desember 2009
CALONARANG KOLOSAL DI TEGALALANG




Keterangan Foto (dari kiri ke kanan): Bapak Bupati Gianyar asyik menonton saat awal pementasan; Megahnya Tratag atau panggung utama; Tarian para sisya; Suasana magis juga ditampilkan oleh pementasan nyiramang layon yang benar-benar dibawakan oleh seseorang.
Tari Calonarang merupakan tarian tradisional Bali berseting kerajaan di Pulau Jawa, tarian ini sudah biasa dan lumrah dipentaskan diseluruh pelosok desa-desa se antero Bali. Namun jenis tarian Calonarang kali ini yang di pentas secara kolosal oleh Desa Tegalalang di Pura Dalem kauh nampaknya berbeda dengan pentas calonarang lainnya, setidaknya berbeda dalam hal tata panggung dan tata lampunya yang dikemas secara apik dan mengesankan ditampilkan secara kolosal. Pangemong, pemaksan pura Puseh Desa Pakraman Pedungan dan Prajuru Desa Pedungan di undang secara khusus oleh Panitia penyelenggara Calonarang di Desa Tegalalang ini.
Oleh harian Balipost juga telah menyampaikan berita ini sebagai berikut, sumber: Balipost
Pentas calonarang yang dirangkaikan dengan prosesi peyineban Ia Betara di Pura Dalem Kauh Pejengaji-Gagah, Tegallalang yang digelar Jumat (6/11) berjalan lancar dan sarat suasana magis. Ribuan penonton yang sebagian besar juga pengemong Pura Dalem Kauh terlihat memadati panggung tempat pementasan di lapangan yang merupakan laba pura Dalem Kauh, Desa Pakraman Tegallalang. Pentas calonarang ini menampilkan seniman-seniman panggung kenamaan Bali yang dikolaborasikan dengan penari lokal yang merupakan tarian ayah-ayahan oleh karma pengemong. Pemundut Ida Ratu Lingsir Cok Ace yang juga Bupati Gianyar.
Selain dihadiri penonton dari berbagai elemen di wilayah Tegallalang, hadir juga penglingsir puri Ubud, pemedek dari Pedungan, Sesetan, Denpasar serta Muspika Kecamatan Tegalallang serta prajuru Banjar di wilayah Desa Pakraman Tegallalang.
Pentas calonarang ini berlangsung hingga pukul 03.00 wita penuh dengan suasana magis terlebih saat perang tanding antara pasukan unying dengan Ratu Mas Ayu. Pementasan calonarang kolosal yang diliput oleh Bali TV atas permohonan karma Pengemong Pura Dalem Kauh ini, secara umum menampilkan perang tanding penganut ilmu hitam yang disimbulkan dengan Walunatengdirah dengan Taskara Maguna, yang merupakan Pepatih kerajaan Kediri.
Pengemong Pura Dalem Kauh, Dewa Putu Oka mengatakan pemedal Ida Ratu Lingsir, Ida Ratu Mas Ayu dan Ida Betara Ratu Mas Putra Sapu Jagat ini serangkaian dengan pawisik lewat jro Mangku Dalem Kauh serta keputusan pengemong Pura Dalem Kauh yakni Krama Banjar Gagah dan Krama Banjar Pejengaji, Tegallalang. Pementasan kali ini juga didukung para donatur termasuk pengiring tabuh oleh Sekeha Gong Cudamani, Pengosekan Ubud, Gianyar. Sanggar Cudamani merupakan sekeha gong populer dan telah berulang kali pentas di Luar Negeri.
UDG 2009 SE KOTA DENPASAR



Dalam rangka pelestarian budaya leluhur, Pemkot Kota Denpasar menyelenggarakan Utsawa Dharma Gita (UDG) yang pesertanya adalah 4 (empat) kecamatan yakni: Denpasar Timur; Denpasar Selatan; Denpasar Barat dan Denpasar Utara. Ada beberapa jenis lomba yang diacarakan dalam UDG kali ini yang diselenggarakan dalam bulan November 2009, kegiatan ini merupakan kelanjutan dari UDG yang diselenggarakan di masing-masing kecamatan Denpasar.
Kali ini Desa Pedungan merupakan kontestan yang utama mewakili kecamatan Denpasar Selatan, Pada saat itu Desa Pedungan jadi Juara Umum untuk pacentokan (perlombaan) se kecamatan Denpasar Selatan. Dan dalam UDG se kota Denpasar tahun ini Kecamatan Denpasar Selatan menjadi Juara Umum pula. Sekalipun Desa Pedungan sempat merasa kecewa, karena Kidung Dewasa Campuran yang diwakili oleh Desa Pedungan dan diunggulkan untuk mendapat emas namun kenyataannya dalam penilaian akhir hanya mendapat perunggu saja. Penghargaan emas yang diperoleh dalam pacentokan UDG tahun ini adalah 9 buah.
BLIGBAGAN PAGUYUBAN 276




Keterangan Foto (dari kiri ke kanan): Ketut Prad; Kak Kupang; De Kablut; Ajik Brekele dan Wayan Sampik
Kalau di TV-TV sekarang dipenuhi dengan diskusi politik; ekonomi; budaya dan topik-topik lainnya, maka Paguyuban 276 Mhz juga tidak mau kalah. Minggu 6 Desember 2009 sore hari beberapa breakeran mengisi topik diskusi dalam bentuk "Pemberdayaan Masyarakat Desa melalui Pupuk yang mudah dijangkau dan murah dibeli Petani", breakeran yang tampil saat itu adalah Wayan Sampik, Gung Aji Brekele, Made Kablut/Bungin 9, Ketut Prad dan Kak Kupang.
Prolog diskusi sebenarnya berawal dari obrolan mengenai pengembangan paguyuban 276 melalui peluang bisnis didesa Pedungan. Namun dalam perjalanan diskusi yang dipandu oleh Wayan Sampik dengan Pengarah acara oleh Berkele ternyata membawa topik diskusi lebih ke topik di atas itu yakni Pemberdayaan masyarakat petani di desa Pedungan.
Kak Kupang dalam diskusi pembuka mengajukan kondisi di pasaran hari ini, bahwa harga beras meningkat secara signifikan. Beras lokal Jembrana merk Kereta sebelumnya dijual di pasaran seharga 140 ribu rupiah, sekarang telah mencapai harga 150 ribu rupiah. Hal ini kiranya perlu diintip guna peluang paguyuban 276 untuk menjadi distributor beras lokal atau beras lainnya yang didistribusikan kepada rekan-rekan paguyuban 276 maupun masyarakat desa pedungan. Lemparan ide ini disambut oleh Made Kablut yang mengharapkan Wayan Sampik mau menyambut ide ini untuk dikelola oleh paguyuban 276. Namun oleh wayan sampik ide ini ingin dipertajam lagi yakni ke arah pupuk, yakni bagaimana dengan proses pendistribusian pupuk dari pemerintah ke KUD lanjut ke petani yang melewati Pekaseh (koordinator subak atau kelompok petani di Bali). Yang ditengarai oleh Wayan Sampik ada kejanggalan dalam proses itu? dimana petani di desa pedungan bisa tidak memperoleh pupuk di KUD, namun sebaliknya justru petani-petani di desa sanur justru mendapatkan pupuk di desa Pemogan tetangga desa Pedungan. Di duga dalam proses pendistribusian pupuk ke masyarakat dimonopoli oleh kelompok atau seseorang yang memborong pupuk pemerintah yang seharusnya untuk petani.
Berkele dan Ketut Prad memberikan masukan-masukan tentang kondisi-kondisi yang menyangkut peranan KUD di desa Pedungan dalam pendistribusian beras ini. Konon sejak beberapa warsa ini KUD Pedungan sudah tidak lagi mendistribusikan pupuk langsung ke petani namun tugas ini telah diambil oleh Pekaseh. Artinya pekaseh yang langsung mempetakan kebutuhan pupuk untuk petani di desa Pedungan yang diajukan ke dinas pertanian. Kondisi ini dirasakan aneh oleh Wayan Sampik, karena menurut pemahamannya bahwa tujuan pendistribusian pupuk itu adalah guna memudahkan para petani mendapatkan pupuk serta membantu petani untuk mendapatkan pupuk yang lebih murah.
Bagaimana cara atau langkah yang sepatutnya diambil agar tujuan awal itu tercapai, yakni petani mudah mendapatkan pupuk dan petani juga dapat membeli pupuk dengan harga yang murah? Hal inilah yang menjadi pemikiran bersama bagi breakeran paguyuban 276.
Mungkin ke depan, breakeran paguyuban 276 lainnya dapat memberi pemikiran-pemikiran jernih lainnya yang dapat disumbangkan ke masyarakat di desa Pedungan, kita tungggu pabligbagan berikutnya.....
Sabtu, 05 Desember 2009
WALIKOTA TATAP MUKA DENGAN KRAMA SUBAK KERDUNG

Pelestarian dan keberadaan Tanah pertanian dan subak di Kota Denpasar harus dipertahankan. Jangan sampai setiap tahunnya mengalami penyusutan yang dipergunakan untuk peruntukan perumahan atau yang lainnya. Pelestarian subak ini bukan saja menjadi tanggung jawab Pemkot, tapi bagaimana krama subak ikut aktif menjaga dan mempertahankan lahan yang ada di wilayah subak masing-masing. ”Mari kita bersama-sama berupaya melestarikan dan mempertahankan keberadaan subak,” kata Walikota IB. Rai Dharmawijaya Mantra saat tatap muka dengan krama subak Kerdung Pedungan, Jumat (4/11). (Oka)
Untuk mengantisipasi terjadinya alih fungsi lahan pertanian orang nomor satu di jajaran Pemkot Denpasar ini sepakat dengan krama subak Kerdung agar ijin pengkavlingan lahan agar distop bagi daerah jalur hijau. Selain itu langkah antisipasi yang harus dilakukan krama subak juga jangan cepat-cepat menjual tanahnya. Untuk itu pihaknya melalui SKPD terkait selalu berupaya melakukan pemberdayaan krama subak dengan berbagai pelatihan dan bantuan material. Dan membebaskan lahan pertanian dari pajak ” Untuk tanah pertanian dan jalur hijau Pajaknya telah disubsidi oleh Pemkot Denpasar yang jumlahnya mencapai 2,5 Milyar lebih. Dan melarang pengembang membangun perumahan dilahan pertanian yang produktif namun mengarahkan kedaerah L/C ”ungkap Rai Mantra yang hoby naik sepeda ini. Sembari mengaku Wayan Tama, Pekaseh Subak Kerdung dihadapan Wali Kota Rai Mantra didampingi Camat Densel IB. Alit Wiradana, dan Lurah Pedungan, I Nyoman Lodra mengungkapkan saat ini lahan pertanian yang digarap oleh krama subak berjumlah 250 orang seluas 240 Ha. Luasnya lahan pertanian yang dimiliki krama subak Kerdung menjadikan subak yang saat ini melakukan pola tanam padi mendapatkan predikat subak yang paling luas di Kota Denpasar.
Kadis Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kota Denpasar, Nyoman Ambara menyampaikan untuk Subak Kerdung sudah diberikan bantuan pengembangan padi organik seluas 10 Ha, bantuan benih padi, pupuk urea, phoska, petroganik dan para petani pelaksana juga diberikan insentif. Selain itu pihaknya juga membantu benih dan pupuk yang subsidi ganda untuk lahan seluas 70 Ha. Sedangkan bantuan lainnya berupa jaringan irigasi dan membuatkan jalan sepanjang 4 Km dengan lebar 2 m yang peruntukannya untuk mempermudah bagi petani dalam beraktivitas seperti membawa traktor, gabah dan mengangkut hasil pertanian lainnya. Khusus untuk penggarapan jalan hingga saat ini baru selesai 60% yang dikerjakan mulai bulan Nopember dan akhir bulan ini sudah rampung. (Oka)